Malam itu Saya
mendapat sms dari sahabat Saya, Dee. Isinya : “Eh, ksh tahu windu suruh telp ke no-nya Yunee,no-nya
tanya dewi (forward from Alfred) mbak Ria masuk RS.”
Saat itu Saya
sedang menonton pertandingan Piala Dunia di televisi . Bergegas Saya berlari ke
meja telpon dan mencoba menelpon Dewi. Berhubung Dewi mempunyai 2 nomor maka
Saya telpon ke CDMA dulu (yg lebih murah) … tidak ada jawaban … Saya coba
telpon ke GSM … masih tidak ada jawaban.
Akhirnya Saya
coba sms ke Dee menanyakan kembali nomornya apakah Dia tahu. Tapi, ternyata Dia
tetap tidak tahu. Akhirnya Saya coba menghubungi Alfred yang pertama kali
memberi kabar. Dari situ Saya mendapatkan nomor adiknya Mbak Ria yang bernama
Yunee. Sayapun mencoba menghubungi langsung ke Yunee saat itu juga dan
menanyakan kabar Ria.
Ternyata pada
saat Saya telpon Mbak Ria sedang istirahat. Sayapun menanyakan sedikit
kronologis mengenai kejadian tersebut. Yunee menceritakan kalau malam itu pada
saat Ria sedang pulang dari kantor tasnya di jambret. FYI, sehari-harinya kan Mbak Ria
selalu menggunakan motor untuk pergi ke kantor. Dan, pada saat dijambret motor
dalam keadaan berjalan otomatis Mbak Ria terjatuh dan luka-luka. Di akhir
percakapan Yunee hanya meminta doa dari Saya. I will pray for the best.
Semoga Ria cepat sembuh.
Paginya Saya
mendapatkan kabar lagi kalau Mbak Ria masih belum sadarkan diri. Dan kata
Dokter lututnya bergeser. JUJUR SAYA SANGAT MIRIS MENDENGAR KABAR ITU, DAN SAYA
MENGUTUK PERBUATAN KEJI SI PENJAMBRET ITU.
Kalau biasanya
Saya hanya membaca berita atau artikel dari milis-milis yang Saya ikuti atau
blogs-blogs kali ini Saya mencoba menulis dari pengalaman pribadi yang menimpa
teman Saya. Mohon Doa dari rekan-rekan semua, entah yang saling kenal ataupun
belum kenal. Semoga Doa kalian semua didengarkan oleh Tuhan YME dan mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya.
Belum lama Dia
merasakan getir dan masih trauma akibat gempa yang melanda kotanya di Yogyakarta. Semoga lekas sembuh
Mbak Ria or I usually call her Alexxandrheea.
Puisi untuk Ria
Kau selalu hiasi
hariku dengan senyummu
Kau selalu hadir
dengan candamu
Kau selalu
memberi kedamaian
Dimanapun kamu
berpijak
Kumasih ingin
selalu melihat senyummu
Mendengar tawamu
Mendengar
ceritamu
Dan ingin kau
selalu ada disini
-Dimas Radityo-
Tangerang, 17
Jun. 06