Lelah!
Ya itu yang ada dipikiran (kok
dipikiran? bukannya dirasakan nih?) Hans saat ini. Sambil merebahkan diri
di kamar tercintanya Hans mencoba memejamkan mata. Ia melihat ke arah jam
dinding yang ada di atas meja kerjanya.
23:00
Besok adalah hari Senin, hari yang paling dibenci
Hans. Sambil menunggu mengantuk Ia mencoba membalas SMS Linda yang dari tadi
sore belum sempat dibalasnya.
“Met malem, dah bobo ya ? Sorry kalo aku ganggu.
Oia, maaf SMSnya baru sempet aku bales sekarang. Dari tadi sibuk
pemotretan, ini aja baru sampe rumah.”
Beberapa menit kemudian.
“Aku belom tidur kok. Baru aja selesai nonton
filmnya Ben Stiller, Meet The Parents. Kocak banget. Kamu capek donk, ya udah
istirahat aja gih. Besok mesti kerja
‘kan? Ntar kesiangan loch. (Linda.
23:07)”
“Ben Stiller ? I Like him. Hm, sering liat
film-filmnya si Ben ini mulai dari Zoolander, Meet the Parents, Starsky and
Hutch, and many more. Tuh orang kocak abis. Aku punya tuh beberapa koleksinya
kalau kamu mau pinjam.”
“Mau donk yang Zoolander. Kayaknya itu film bagus
deh. Disitu Ben main sama siapa? Trus ceritanya tentang apa? (Linda, 23:25)”
“Hmm, aku juga udah agak lupa-lupa inget. Soalnya
itu film ‘kan tahun 2001. Disitu
dia main sama Owen Wilson. Tentang modelling gitu. Kocak abis. Apalagi pas
adegan temennya mati gara-gara ngerokok di pom bensin. Ada-ada aja.”
“Hahahahahahaa … jadi pengen nonton. Trus kamu
punya film apalagi yang bagus-bagus. Aku boleh pinjem yaa ? Aku lagi minggu
tenang nih, jadi gak ada kerjaan. Jadi,
sambil nunggu IP ku keluar ‘kan
aku ada hiburan di rumah.(Linda, 23:35)”
“Wah, apa ya? Banyak sih… Besok aku pilihin deh
buat kamu, moga-moga aja kamu suka. Trus besok kalo sempet pulang kantor aku
anterin ke rumah ya? Sekarang aku mau tidur dulu. Udah ngantuk, met bobo ya,
Lin. Bye.”
Hans pun mengakhiri sesi SMS menjelang tidur
tersebut. Matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi, Hans pun segera
memejamkan matanya. Belum sempat Hans mengetuk alam mimpi lagi-lagi Ia
dikejutkan oleh suara HP nya.
“Siapa sih malem-malem gini telpon. Baru juga mau
tidur.”, gerutu Hans dalam hati.
08156661234
“Nomor siapa nih, ya?”, bathin Hans. Ia mencoba
mengangkat nomor asing tersebut.
“Hans, makasih ya The Pianist nya. Kamu kok
sempet-sempetnya beliin aku DVD. Kapan kamu belinya, Hans? Kok aku gak tau?”,
suara diujung sana membuka
pembicaraan.
“Bukan aku yang naro kok, hadiah kali dari kasir Mango tadi
pas kamu belanja disana. Kali aja Dia ngasih bonus film itu.”
“Ah, gak mungkin. Yang tahu aku lagi ingin film
The Pianist ‘kan Cuma kamu. Kamu
dah mau tidur ya, Hans? Aku lagi nggak bisa tidur nih. Lebih tepatnya sih aku
mengidap insomnia. Dan, aku baru bisa tidur mungkin nanti jam 3 pagi. “
What ? Jam 3 pagi. Hm, apakah gue harus nemenin Julia
ngobrol sampe Dia bisa tidur ya? Mata gue udah ngantuk banget nih. Udah nggak
tahan kayaknya.
“Hans? Kok diem sih? Ya udah deh, kalo nggak bisa
juga nggak apa-apa kok. Sekali lagi thanks for DVDnya. Good night and sweet
dreams ya, Hans.”
*click*
Telpon itu pun ditutup.
Hans hanya bisa terdiam. Matanya lagi-lagi sudah
tak tahan ingin segera dipejamkan. Tapi, rasa tidak enaknya terhadap Julia
rupanya sudah mengalahkan rasa kantuknya. Ia pun mencoba menelpon kembali ke
nomor yang baru saja menelponnya.
“Julia?”
“Yap, kamu nggak jadi tidur
Hans?”
“Sorry tadi aku belum sempet ngomong kamu sudah
tutup. Ya, sebetulnya aku memang mengantuk sih.”
“Thanks yah udah mau nelpon aku, tahu nggak aku
langsung setel film The Pianistnya nih. Kebetulan aku selalu bawa DVD Portable
milikku, sekedar jaga-jaga aja kalau film-film di hotel tidak ada yang
bagus.”
“Oya? Rajin banget … hehehehehehe.”
“Aku suka banget akting si ganteng Adrien Brody
ini di film The Pianist, cool banget. Uh, ganteng!”
“Hahahahaha … dasar cewek. Emang sih, nggak heran
kalo dia bisa dapet piala oscar untuk film itu.”
“Yaps,
ur right. Apalagi pas dipanggung dia
sempet kissing pula sama si
Halle
Berry.”
“Ya-ya-ya … I remember that moment. Kebetulan aku
juga lagi nonton acara penyerahan Oscar itu di TV.”
Kami berdua tertawa bareng dan tanpa terasa
rasa kantukku ini mulai terkikis. Dan seperti minum vitamin aku merasa energiku
telah kembali.
“Kamu nggak ada pemotretan nanti?”, aku kembali
membuka percakapan.
“Ada
sih, jam 9 pagi. Di daerah
Bogor.”
“Gak coba minum obat tidur atau ngitung domba
mungkin biar bisa tertidur?”
“Nggak manjur, Hans. Kalau minum obat-obat seperti
itu malah aku nggak terkontrol tidurnya. Dan dokter bilang emang gak baik buat
tubuhku.”
“Rencana di Indonesia berapa hari? “
“Aku kurang tahu pasti, karena assistenku itulah
yang megang semua jadwal aku. Kadang aku juga benci dengan segala rutinitas ini.
Aku serasa jadi boneka. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini resiko yang harus aku
terima akan pilihan karirku ini.”
“Hmm … Tapi,
‘kan enak kamu menjalani segala
rutinitas itu dengan bayaran yang lumayan bukan?”
“Memang kata mama dari kecil aku sudah berbakat
jadi model, dan mama satu-satunya orang yang mendukung karirku ini. Sampai
kemudian …”
“Kemudian kenapa?”
“Aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang Hans,
cukup menyakitkan buat aku. Satu-satunya orang yang sangat-sangat berarti buat
aku kini udah nggak ada lagi disamping aku. Melihat kesuksesanku.”
“Sorry to hear that.”
“It’s okay, Hans. Kamu kayaknya mesti tidur deh,
nanti pagi ‘kan kamu mesti kerja.
Dan sepertinya aku juga sudah mulai mengantuk sekarang. Sekali lagi, terima
kasih ya sudah mau menelpon dan menemaniku ngobrol.”
“Ok, sama-sama. Met istirahat, Julia. Have a nice
dream.”
Jam dinding di atas meja kerjaku kini sudah
menunjukkan waktu 02.45. Tak terasa aku sudah menghabiskan waktu hampir 3 jam
menemani Julia ngobrol. Sekarang aku mau benar-benar tidur. Semoga tidak ada
gangguan lagi.