08. 55
Kubangun dari tempat dudukku,
lalu mengaktifkan status YM di komputerku menjadi. (-)Not At My Desk. Kuambil
USB berisikan materi presentasiku pagi ini dari dalam ranselku dan kulangkahkan
kakiku menuju ruang meeting.
Benny, Rossa, Big Boss dan dua
orang perwakilan dari Nico Nico Intimo sudah berada di ruangan itu. Aku pun
segera duduk di sebelah Benny. Tak lama kemudian Boss langsung membuka acara
meeting untuk edisi akhir tahun ini.
Setelah boss menjelaskan tentang
konsep edisi akhir tahun, Benny menentukan tempat-tempat yang menarik untuk
dijadikan lokasi pemotretan berikutnya. Maka tibalah giliranku untuk
menjelaskan konsep pemotretan nanti beserta contoh-contoh model yang selama ini
telah aku potret.
Aku masukkan USB-ku ke dalam
laptop yang disambungkan ke proyektor itu. Kemudian aku mulai menjelaskan
tentang konsep yang aku inginkan. Sampai kemudian tibalah saat untuk
menunjukkan hasil-hasil pemotretan selama ini.
Semua foto-foto itu aku masukkan
ke dalam bentuk .pps atau Microsoft Power Point dalam bentuk slide.
D:\project\project.pps
Hah ! Kok … Kenapa jadi
foto-fotonya Linda? Duh, kebiasaan deh gue nggak ngerubah nama file dan gue
nggak simpen di folder khusus!
"Hans, itu foto siapa?
Memangnya kita pernah memakai model itu ?", tanya boss ku.
"Hans, koq gue nggak kenal
sama model itu ya?", Benny ikut-ikutan bertanya.
"Siapa tuh Hans? Lucu juga ?
Model baru ya? ", tambah Rossa.
Sedangkan slideshow terus
berjalan, slideshow yang menampilkan foto-foto Linda dan juga kawan-kawannya.
Foto-foto yang kuambil beberapa waktu lalu saat sedang hunting tempat. Kulihat
diseberang tempatku berdiri saat ini kedua perwakilan itu senyum-senyum.
"M-m-maaf. Ini bukan project
dari kantor. Saya lupa untuk merubah nama file untuk foto-foto ini. Kebetulan
Saya sempat membuatkan slideshow untuk teman Saya. Sebentar, Saya akan
tampilkan project yang sesungguhnya."
"Tidak perlu.", salah
seorang laki-laki dari perwakilan itu menjawab dengan lantang. "Pak
Raymond, bisa Saya bicara di ruangan Bapak saja sekarang ?"
"Oh, boleh-boleh."
"Terima kasih atas
presentasinya, Bapak …"
"Hans, Pak!"
"Oke, Bapak Hans. Saya rasa
presentasinya cukup sekian. Saya ingin berbicara dulu dengan boss Anda."
Tiba-tiba orang itu sudah
berjalan meninggalkan ruangan bersama Pak Raymond. Ya, Raymond Siregar. Itu
adalah nama bossku. Tak tahu apa jadinya nanti. Ternyata aku membuat kesalahan
bodoh pagi ini! Damn!
"Hans, siapa tuh tadi. Lucu
juga. Gebetan lo ya?", tanya Rossa.
"Nggak, bukan kok. Cuma
temen aja , kebetulan waktu itu gue abis motret Dia di taman pas lagi hunting
tempat."
"Lo gak ajak sekalian jadi
model ? Tampangnya oke juga Hans, gak kalah lah sama Julia kalo udah dipoles.
", tambah Benny yang ikut-ikutan mengomentari.
"Wah, nggak kepikiran tuh
Ben. Gue aja belum lama kenal Dia."
"Hm, sepertinya bakal ada
yang jadi kontestan uji nyali nih nanti setelah si boss selesai private meeting
diruangannya. Siap-siap aja lo, Hans!", canda Rossa.
"Rese lo, Sa. Seneng ya kalo
liat gue diomelin si boss!"
"Ya, nggak juga sih. Tapi,
naga-naganya lo bakalan masuk ke ruangan itu setelah mereka bertiga keluar. Lo
nggak tertarik sama cewek yang dateng sama bos Nico Nico Intimo itu Hans?"
"Yang mana? Yang putih,
cantik plus pake kaca mata itu?"
"Yups … bisa aja tuh orang
nyari sekretaris cantik kaya gitu."
"Iya nggak kaya Pak Raymond
yang milih presenter Cek dan Ricek untuk dijadiin sekretaris di kantor
ini.", Hans pun segera berlari meninggalkan ruang meeting untuk membuat
segelas kopi. Dibelakangnya Rossa terlihat cemberut akibat ucapan terakhir Hans
tadi.
"HANS !!!!!!!! Awas lo ya
!"
Sementara Hans menuju pantry
untuk membuat kopi, Rossa yang masih sensi akibat kalimat Hans berjalan
menghampiri Benny yang masih duduk di ruang meeting, Benny malah asyik ber-SMS
ria entah dengan siapa.
"Rese banget sih tuh temen
lo ! Biarin aja paling-paling nanti bakalan ada yang diomelin bos! Biar tahu
rasa tuh anak!"
"Emang gue pikirin.",
Benny menjawab sekenanya sambil berasyik-asyik SMS-an.
"SMS siapa sich Ben? Cewek
ya?"
"Ya iyalah, 'kan
loe tahu sendiri. Model mana sih yang nggak mau pemotretan di majalah kita ini.
Dan, semua itu harus lolos kualifikasi dan seleksi dari gue ."
"Huuuuuuuuu … G-R."
"Bilang aja lo pengen juga 'kan
masuk di majalah kita ini sebagai seorang modelnya. Ayo,ngaku!"
"Ah, gue 'kan
ga bakat jadi model, Ben."
"Lo bakat kok, tapi nanti
yang dengan rela senang hati motret elo bukannya Hans atau anak-anak
fotografer. Tapi, si Udin supirnya bos! Hahahahahaahahaa."
"BENNY !!!!"
Kali ini gantian Benny yang
berlari meninggalkan Rossa di ruangan meeting.
"Sialan tuh 2 makhluk! Nggak
Benny. Nggak Hans. Sama aja! Ugh, nyebelin!"
Dengan muka cemberut Rossa
menjadi orang yang paling terakhir keluar dari ruang meeting itu . Meeting yang
lain dari biasanya, kurang dari 30 menit!