“Ali … Ali … “,
aku bereriak mencari Ali adikku yang belum pulang malam
ini. Sedangkan hari sudah beranjak gelap. Suara adzan maghrib berkumandang dari
musholla di kampungku.
Tiba-tiba di pos
kamling dekat musholla aku melihat Bimo teman bermain Ali sehari-hari.
“Mo, kamu lihat
Ali ?”, tanyaku pada Bimo.
“Ali, tidak Mas.
Memangnya Ali belum pulang?”
“Belum, makanya
Mas dari tadi mencari dia kesana-kemari.”
“Tadi siang sih
kami sempat berkeliling kampung mencari cacing buat acara mancing besok. Habis
itu katanya Ali pergi ke perumahan di belakang kampung kita itu. Katanya sih
Dia diajak teman sekolahnya bermain bola
disana.”
“Oke deh, terima
kasih ya. Mas, mau cari Ali lagi.”
“Sama-sama,
Mas.”
Aduh kemana perginya Ali ya? Tumben-tumbenan
sudah Maghrib Ia
belum sampai di rumah.
Akupun pulang ke
rumah untuk shalat Maghrib dan kemudian kuambil sepeda motorku untuk mencari
Ali lagi di perumahan belakang kampungku ini. Memang sebenarnya kampungku ini
sudah mau digusur untuk proyek perumahan tersebut. Tapi, para warga disini
keberatan untuk meninggalkan kampung ini begitu juga Aku dan keluargaku.
Sudah
turun-temurun kami tinggal dikampung ini. Dan begitu banyak kejadian yang sulit
untuk terlupakan. Disinilah tempatku bermain, disinilah kumiliki
sahabat-sahabatku dan dikampung inilah Aku bisa menjadi seperti sekarang.
Ya, memang aku
hanya seorang guru SD tak jauh dari kampungku ini. Tepatnya didalam perumahan
itu. Terus terang jarang sekali aku bermain-main ke perumahan itu, karena
banyak orang kampungku bilang disana orangnya sombong-sombong dan tidak mau
bergaul dengan orang kampungku. Dengan alasan tidak sederajat.
Jam di tanganku
sudah menunjukkan pukul 7 malam dan belum ada tanda-tanda kepulangan adikku
yang masih duduk di kelas VI SD
itu. Ali adalah juara di sekolahnya, bukan karena aku tentunya. Dia sekolah
agak jauh dari kampungku, karena biaya sekolah di daerah perumahan itu cukup
mahal. Dan gajiku tidaklah cukup untuk membiayai Ali dan ibu yang kini sering
sakit-sakitan. Aku sengaja tidak mengatakan hilangnya Ali ini dengan Ibuku.
Karena Aku takut kalau kukatakan hal tersebut ia akan panik.
Jalan-jalan
perumahan telah aku telusuri dengan sepeda motorku. Tapi, tak ada tanda-tanda
keberadaan Ali. Perumahan ini pun seperti komplek hantu, yang ada hanyalah
temaram lampu jalanan dan beberapa pedagang keliling yang mulai berjualan.
Ali adalah anak
yang begitu enerjik, melihatnya tersenyum dan berprestasi membuatku melupakan
sejenak segala kepenatan dan kesulitan yang aku rasakan. Mengenali Ali sangat
mudah sekali karena selain rambutnya yang botak, ia juga memiliki sebuah tahi
lalat di bawah bibir sebelah kirinya. Ia selalu mencukur habis rambutnya,
karena ia begitu menyukai bintang sepakbola asal Brasil Ronaldo. Tak pernah ia
melewatkan satupun pertandingan bila Ronaldo bermain dan ulang tahunnya kemarin
aku membelikannya sebuah kaus sepakbola berwarna kuning timnas Brasil dengan
nomor punggung 9 dan nama Ronaldo diatasnya.
Ketika malam
semakin larut, dan aku mulai kehabisan akal harus mencari kemana lagi tiba-tiba
mataku tertuju pada sebuah kaus yang sangat aku kenali.Kaus yang aku berikan
kepada Ali tergeletak diatas lapangan basket itu. Aku yakin ini miliknya. Aku
cari kesana-kemari untuk mencari petunjuk. Tapi, tak ada kutemukan apapun yang
bisa membantuku untuk menemukan Ali.
Jantungku berdetak keras, dan berbagai macam
persepsipun timbul dalam benakku ini. Kemana kamu Ali ? Ali jangan pergi, aku
masih mau melihatmu tersenyum, bermain dan aku kan menjagamu sampai kamu dewasa nanti.
Tiba-tiba
lamunanku dikejutkan oleh sebuah kalimat yang aku kenal
“Mas Tio?
Ngapain Mas disini?”
“Ali? Kamu
kemana aja sich? Mas mencari kamu kesana-kemari.”
“Hmm … Ali tahu
kok kalau Ali salah. Tidak memberi kabar kepada Mas Tio ataupun ibu Ali pergi
kemana hari ini. Pokoknya Ali punya sesuatu buat Mas Tio dan ibu dirumah. Wah,
kok baju Ali bisa sama Mas?”
“Loh memang kamu
nggak tahu baju ini bisa ada di lapangan itu?”
“Memang sich
tadi Ali buru-buru meninggalkan lapangan ini sampai-sampai lupa memakai baju
itu lagi. Tadi, Ali keringetan Mas Tio, makanya kaus itu Ali lepas.”
“Memang kamu
kemana aja sih dari tadi siang?”
“Tadi siang
sehabis mencari cacing dengan Bimo Ali pamit untuk main ke perumahan ini.
Soalnya Ali ada janji bermain bola sama anak-anak disini.”
“Terus ? Kok
habis main nggak langsung pulang ?”
“Tadi, Ali
diajak Yusuf anak perumahan ini. Nah, karena buru-buru Ali sampai lupa memakai
kaus itu lagi.”
“Terus kamu
pakai nggak pakai baju ?”
“Ya awalnya sich
Ali pakai kaus singlet aja, tapi terus Ali dipinjamkan kaus oleh Yusuf. Karena
untuk kembali ke lapangan sudah cukup jauh. Mas Tio marah ya kaus itu Ali
tinggal?”
“Nggak koq, Mas
Tio nggak marah. Lalu kamu dari rumah Yusuf kemana?”
“Tadi, dari
rumahnya Ali diajak Yusuf untuk ikut dia ke Pasar depan perumahan ini. Disana
Ali diajak Yusuf membantu ayahnya yang baru pulang dari kota.
Menurunkan beras, gula dan juga kardus-kardus mie instant untuk di jual di Toko
Yusuf. Habis itu Yusuf mentraktir Ali minum es dawet di depan pasar, enak deh
Mas Tio pasti belum pernah nyobain kan?”
Tio mengendarai
sepeda motornya melintasi gelapnya malam sambil mendengarkan cerita adiknya
itu.
“Eh, Mas Tio
nggak dengerin Ali cerita ya?”, Tanya Ali kepadaku dengan sedikit marah.
“Denger kok.
Terus setelah minum es dawet sama Yusuf kamu kemana ?”
“Ooo, kirain Mas
Tio nggak dengerin Ali cerita. Habis makan es dawet Ali berkeliling-keliling
pasar bersama Yusuf. Ternyata kalau sore menjelang malam itu pasar ramai juga
ya, Mas. Tapi, ramainya sama pedagang yang menunggu barang dagangan yang
dipasok dari kota. Nah, Ali sama
Yusuf juga tadi membantu-bantu para pedagang yang lain dipasar itu.”
“Kamu jadi
mancing sama Bimo besok?”
“Tentu, tadi kan
Bimo dan Ali sudah mempersiapkan umpan buat besok. Mas Tio besok libur juga kan?
Jadi Ali boleh ya mancing sama Bimo dan teman-teman yang lain?”
“Iya, besok Mas
Tio dirumah kok jagain Ibu.”
“Oiya, Mas Tio
tadi pas di pasar ada penjambret gitu. Nah, kebetulan Ali sama Yusuf melihat
penjambret itu sembunyi di belakang WC umum sambil memegang tas hasil
rampasannya. Sesudah itu Ali sama Yusuf buru-buru lapor ke pos kemananan untuk
melaporkan hal itu. Akhirnya pas si penjambret lagi asyik-asyik menghitung duit
hasil rampasannya, eh, Dia malah ditangkep sama petugas itu. Terus ibu-ibu yang
dijambret itu ternyata masih menangis di pos keamanan.”
Kemudian tanpa
disadari merekapun sudah sampai di depan rumah. Betapa kagetnya Tio melihat
begitu banyak barang di ruang tamu. Mulai beras, mie instant, gula dan telur
ayam.
“D-d-dari mana
semua ini ?”, Tanya Tio kepada Ali.
“Inilah
kejutannya. Tadi, orangtua Yusuf memberikan sedikit dagangannya untuk kita
sehari-hari Mas. Terus juga pas Ali dan Yusuf mau pulang ibu-ibu yang dijambret
itu memberikan Ali uang tanda terima kasih. Karena di tas itu terdapat
barang-barang berharga miliknya dan juga cincin pernikahannya yang sengaja ia
masukkan ke tas supaya tidak mencurigakan.”
“TAPI … lain
kali kamu tetep harus pamit sama orang rumah ya? Mas Tio khawatir takut terjadi
apa-apa sama kamu.”
“Iya, Ali minta
maaf sama Mas Tio. Ya sudah Ali mau cuci muka, shalat berjamaah sama Mas Tio
terus tidur sama Ibu.”
Bayangan adiknya
itupun menghilang dibalik pintu kamar mandi. Tio pun juga masuk kekamarnya dan
bersiap-siap shalat berjamaah bersama adiknya tercinta.
Ya Allah, terima kasih atas perlindunganmu
kepada keluargaku
Aku begitu takut kehilangan adikku
Terima kasih aku masih dapat melihat
keceriaan dalam dirinya
Sebetulnya
cerpen ini Saya ikut sertakan beberapa waktu lalu di lomba penulisan
cerpen. Tapi, karena tidak lolos kualifikasi maka iseng-iseng aja di
share.