Blog Entry[Cerpen]Ali, Kau Membuatku Panik !Aug 7, '06 10:53 PM
for everyone


“Ali … Ali … “, aku bereriak mencari Ali adikku yang belum pulang malam ini. Sedangkan hari sudah beranjak gelap. Suara adzan maghrib berkumandang dari musholla di kampungku.

Tiba-tiba di pos kamling dekat musholla aku melihat Bimo teman bermain Ali sehari-hari.

“Mo, kamu lihat Ali ?”, tanyaku pada Bimo.

“Ali, tidak Mas. Memangnya Ali belum pulang?”

“Belum, makanya Mas dari tadi mencari dia kesana-kemari.”

“Tadi siang sih kami sempat berkeliling kampung mencari cacing buat acara mancing besok. Habis itu katanya Ali pergi ke perumahan di belakang kampung kita itu. Katanya sih Dia diajak teman sekolahnya bermain bola  disana.”

“Oke deh, terima kasih ya. Mas, mau cari Ali lagi.”

“Sama-sama, Mas.”

Aduh kemana perginya Ali ya? Tumben-tumbenan sudah Maghrib Ia belum sampai di rumah.

Akupun pulang ke rumah untuk shalat Maghrib dan kemudian kuambil sepeda motorku untuk mencari Ali lagi di perumahan belakang kampungku ini. Memang sebenarnya kampungku ini sudah mau digusur untuk proyek perumahan tersebut. Tapi, para warga disini keberatan untuk meninggalkan kampung ini begitu juga Aku dan keluargaku.

Sudah turun-temurun kami tinggal dikampung ini. Dan begitu banyak kejadian yang sulit untuk terlupakan. Disinilah tempatku bermain, disinilah kumiliki sahabat-sahabatku dan dikampung inilah Aku bisa menjadi seperti sekarang.

Ya, memang aku hanya seorang guru SD tak jauh dari kampungku ini. Tepatnya didalam perumahan itu. Terus terang jarang sekali aku bermain-main ke perumahan itu, karena banyak orang kampungku bilang disana orangnya sombong-sombong dan tidak mau bergaul dengan orang kampungku. Dengan alasan tidak sederajat.

Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 7 malam dan belum ada tanda-tanda kepulangan adikku yang masih duduk di kelas VI SD itu. Ali adalah juara di sekolahnya, bukan karena aku tentunya. Dia sekolah agak jauh dari kampungku, karena biaya sekolah di daerah perumahan itu cukup mahal. Dan gajiku tidaklah cukup untuk membiayai Ali dan ibu yang kini sering sakit-sakitan. Aku sengaja tidak mengatakan hilangnya Ali ini dengan Ibuku. Karena Aku takut kalau kukatakan hal tersebut ia akan panik.

Jalan-jalan perumahan telah aku telusuri dengan sepeda motorku. Tapi, tak ada tanda-tanda keberadaan Ali. Perumahan ini pun seperti komplek hantu, yang ada hanyalah temaram lampu jalanan dan beberapa pedagang keliling yang mulai berjualan.

Ali adalah anak yang begitu enerjik, melihatnya tersenyum dan berprestasi membuatku melupakan sejenak segala kepenatan dan kesulitan yang aku rasakan. Mengenali Ali sangat mudah sekali karena selain rambutnya yang botak, ia juga memiliki sebuah tahi lalat di bawah bibir sebelah kirinya. Ia selalu mencukur habis rambutnya, karena ia begitu menyukai bintang sepakbola asal Brasil Ronaldo. Tak pernah ia melewatkan satupun pertandingan bila Ronaldo bermain dan ulang tahunnya kemarin aku membelikannya sebuah kaus sepakbola berwarna kuning timnas Brasil dengan nomor punggung 9 dan nama Ronaldo diatasnya.

Ketika malam semakin larut, dan aku mulai kehabisan akal harus mencari kemana lagi tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kaus yang sangat aku kenali.Kaus yang aku berikan kepada Ali tergeletak diatas lapangan basket itu. Aku yakin ini miliknya. Aku cari kesana-kemari untuk mencari petunjuk. Tapi, tak ada kutemukan apapun yang bisa membantuku untuk menemukan Ali.

Jantungku berdetak keras, dan berbagai macam persepsipun timbul dalam benakku ini. Kemana kamu Ali ? Ali jangan pergi, aku masih mau melihatmu tersenyum, bermain dan aku kan menjagamu sampai kamu dewasa nanti.

Tiba-tiba lamunanku dikejutkan oleh sebuah kalimat yang aku kenal

“Mas Tio? Ngapain Mas disini?”

“Ali? Kamu kemana aja sich? Mas mencari kamu kesana-kemari.”

“Hmm … Ali tahu kok kalau Ali salah. Tidak memberi kabar kepada Mas Tio ataupun ibu Ali pergi kemana hari ini. Pokoknya Ali punya sesuatu buat Mas Tio dan ibu dirumah. Wah, kok baju Ali bisa sama Mas?”

“Loh memang kamu nggak tahu baju ini bisa ada di lapangan itu?”

“Memang sich tadi Ali buru-buru meninggalkan lapangan ini sampai-sampai lupa memakai baju itu lagi. Tadi, Ali keringetan Mas Tio, makanya kaus itu Ali lepas.”

“Memang kamu kemana aja sih dari tadi siang?”

“Tadi siang sehabis mencari cacing dengan Bimo Ali pamit untuk main ke perumahan ini. Soalnya Ali ada janji bermain bola sama anak-anak disini.”

“Terus ? Kok habis main nggak langsung pulang ?”

“Tadi, Ali diajak Yusuf anak perumahan ini. Nah, karena buru-buru Ali sampai lupa memakai kaus itu lagi.”

“Terus kamu pakai nggak pakai baju ?”

“Ya awalnya sich Ali pakai kaus singlet aja, tapi terus Ali dipinjamkan kaus oleh Yusuf. Karena untuk kembali ke lapangan sudah cukup jauh. Mas Tio marah ya kaus itu Ali tinggal?”

“Nggak koq, Mas Tio nggak marah. Lalu kamu dari rumah Yusuf kemana?”

“Tadi, dari rumahnya Ali diajak Yusuf untuk ikut dia ke Pasar depan perumahan ini. Disana Ali diajak Yusuf membantu ayahnya yang baru pulang dari kota. Menurunkan beras, gula dan juga kardus-kardus mie instant untuk di jual di Toko Yusuf. Habis itu Yusuf mentraktir Ali minum es dawet di depan pasar, enak deh Mas Tio pasti belum pernah nyobain kan?”

Tio mengendarai sepeda motornya melintasi gelapnya malam sambil mendengarkan cerita adiknya itu.

“Eh, Mas Tio nggak dengerin Ali cerita ya?”, Tanya Ali kepadaku dengan sedikit marah.

“Denger kok. Terus setelah minum es dawet sama Yusuf kamu kemana ?”

“Ooo, kirain Mas Tio nggak dengerin Ali cerita. Habis makan es dawet Ali berkeliling-keliling pasar bersama Yusuf. Ternyata kalau sore menjelang malam itu pasar ramai juga ya, Mas. Tapi, ramainya sama pedagang yang menunggu barang dagangan yang dipasok dari kota. Nah, Ali sama Yusuf juga tadi membantu-bantu para pedagang yang lain dipasar itu.”

“Kamu jadi mancing sama Bimo besok?”

“Tentu, tadi kan Bimo dan Ali sudah mempersiapkan umpan buat besok. Mas Tio besok libur juga kan? Jadi Ali boleh ya mancing sama Bimo dan teman-teman yang lain?”

“Iya, besok Mas Tio dirumah kok jagain Ibu.”

“Oiya, Mas Tio tadi pas di pasar ada penjambret gitu. Nah, kebetulan Ali sama Yusuf melihat penjambret itu sembunyi di belakang WC umum sambil memegang tas hasil rampasannya. Sesudah itu Ali sama Yusuf buru-buru lapor ke pos kemananan untuk melaporkan hal itu. Akhirnya pas si penjambret lagi asyik-asyik menghitung duit hasil rampasannya, eh, Dia malah ditangkep sama petugas itu. Terus ibu-ibu yang dijambret itu ternyata masih menangis di pos keamanan.”

Kemudian tanpa disadari merekapun sudah sampai di depan rumah. Betapa kagetnya Tio melihat begitu banyak barang di ruang tamu. Mulai beras, mie instant, gula dan telur ayam.

“D-d-dari mana semua ini ?”, Tanya Tio kepada Ali.

“Inilah kejutannya. Tadi, orangtua Yusuf memberikan sedikit dagangannya untuk kita sehari-hari Mas. Terus juga pas Ali dan Yusuf mau pulang ibu-ibu yang dijambret itu memberikan Ali uang tanda terima kasih. Karena di tas itu terdapat barang-barang berharga miliknya dan juga cincin pernikahannya yang sengaja ia masukkan ke tas supaya tidak mencurigakan.”

“TAPI … lain kali kamu tetep harus pamit sama orang rumah ya? Mas Tio khawatir takut terjadi apa-apa sama kamu.”

“Iya, Ali minta maaf sama Mas Tio. Ya sudah Ali mau cuci muka, shalat berjamaah sama Mas Tio terus tidur sama Ibu.”

Bayangan adiknya itupun menghilang dibalik pintu kamar mandi. Tio pun juga masuk kekamarnya dan bersiap-siap shalat berjamaah bersama adiknya tercinta.

Ya Allah, terima kasih atas perlindunganmu kepada keluargaku

Aku begitu takut kehilangan adikku

Terima kasih aku masih dapat melihat keceriaan dalam dirinya

 

 

 Sebetulnya cerpen ini Saya ikut sertakan beberapa waktu lalu di lomba penulisan cerpen. Tapi, karena tidak lolos kualifikasi maka iseng-iseng aja di share.


sabitnet wrote on Aug 16, '07
wah..so nice story

kakak yang sangat bertanggung jawab
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help