Menikmati
secangkir kopi hitam tanpa gula memang sangat menyenangkan. Sambil berchit-chat
ria via YM (Yahoo Messenger). Setelah meeting yang super-duper singkat itu Aku pun segera curhat dengan Linda.
Hans :
Hello, Lin. Lagi apa? Belum mandi deh pasti!
Linda :
Huuuu … enak aja! Udah donk, Aku
‘kan biasa mandi pagi. Emangnya
kamu.
Hans : Aku ? Kenapa emangnya? Aku juga
mandi kok … Cuma emang agak siang mandinya.
Linda : Oya,
nanti sore jadi ke rumah ‘kan ?
Kebetulan mama hari ini mau bikin spaghetti loh!
Hans :
Spagetti ? Sound’s great! Wah, kalo gitu Aku pasti datang ke rumah kamu! Di
tunggu ya ?
Linda : Hmmm
… kalo Aku nggak bilang Mama bikin spaghetti belum tentu dateng ya?
Hans : Nggak
juga kok, lagipula Aku dah persiapkan semua DVD yang mau kupinjemin ke kamu
untuk nemenin liburan kamu.
Linda :
Makasih sebelumnya.
Hans :
Sama-sama … terus ada rencana apa hari ini?
Linda :
Nggak ada rencana apa-apa kok, paling bantu Mama bikin spaghetti terus mau
baca-baca buku aja di kamar.
Tiba-tiba
Hans dikejutkan oleh suara telepon di meja kerjanya. Suara diujung
sana sepertinya Dia hafal di luar
kepala. Siapa lagi kalo bukan si Miss Gossip.
“Hans? Lo di
suruh ke ruangan Pak Raymond sekarang! Nggak pake lama ya? Soale ada yang mau
dibicarakan ‘tuh, PENTING!”, belum sempat kujawab Rossa pun sudah menutup gagang
telponnya. Kayaknya masih marah gara-gara kata-kataku di ruang meeting tadi.
But, nevermind, ntar juga normal sendiri. Hans pun segera berpamitan sebentar
dengan Linda.
Hans : Lin,
Aku mau ke ruangan boss dulu ya? Di panggil nih, nanti kalo Aku dah selesai Aku
Buzz ya?
Linda : Oke
deh! See you later, Hans.
Hans segera
menghabiskan kopinya, dan berjalan ke ruangan boss. Entah kenapa kalau memasuki
ruangan Pak Raymond begitu banyak pikiran-pikiran yang menakutkan. Dan juga
jarak antara mejaku dan ruangannya yang hanya sekian meter terasa seperti
berjalan di jalan tiada ujung. Begitu jauh, begitu berat untuk melangkahkan
kaki. Ketika sampai di depan ruangnnya Aku pun mengetuk pintu itu lagi.
“Masuk !”,
Suara Pak Raymond yang memang berintonasi tinggi itu cukup membuat sport jantung.
“Ma-maaf,
Bapak memanggil Saya?”, pertanyaan pertamaku ketika memasuki ruangan angker
itu.
“Silahkan
duduk, ada yang mau Saya bicarakan dengan kamu!”
Aku pun
segera menarik kursi yang ada di depan meja kerjanya. Dan kemudian duduk
berhadapan dengan Pak Raymond. Tanpa banyak basa-basi Ia pun segera membuka
percakapan.
“Hans, kamu
tahu ‘kan kalau yang datang tadi
pagi itu merupakan klien penting?”
“Tahu,
Pak.”
“Kamu juga
tahu ‘kan kalau setiap tahunnya
mereka selalu membantu kita dalam pembuatan edisi akhir tahun.”
“Tahu,
Pak.”
“Dan kamu
juga tahu kalau mereka itu salah satu pengiklan terbesar di majalah kita?”
“Iya,
Pak.”
“LALU,
KENAPA KAMU TIDAK TELITI DAHULU SEBELUM MELAKUKAN PRESENTASI TADI PAGI ???”
Suaranya yang begitu keras dan menggelegar
membuat bulu kudukku merinding. Kalau dulu hanya bisa mendengar gossip yang
beredar mengenai kemurkaan Pak Raymond ini, kali ini gue mendapat giliran untuk
live show di dalam ruang angker ini.”
“KENAPA DIAM
?”
“Maaf, Pak.
Saya akui memang itu kesalahan Saya. Saya memang lalai dalam mempersiapkan bahan
meeting untuk tadi pagi. Sa …”
“SAYA TIDAK
MAU TAHU dan TIDAK MAU DENGAR ALASAN KAMU !!!”
“Tapi, Pak
…”
“TIDAK
ADA TAPI-TAPIAN ! SEKARANG SAYA MAU
WANITA YANG ADA DI FOTO KAMU ITU
ADA DISINI BESOK PAGI !”
“….”
“JAWAB !
“
“I-Iya, Pak!
Akan Saya usahakan!”
“Masa depan
kamu ditentukan besok pagi! Sekarang kembali ke meja kamu dan lanjutkan kerjamu.
Dan, tolong pintu ruangannya di tutup kembali.
“Baik,
Pak!”
Dengan
langkah gontai Aku pun keluar dari ruang angker itu, ruang untuk uji nyali. Di
depan ruangan Pak Raymond terlihat beberapa karyawan melihatku keluar ruangan
dengan tampang kusut. Seperti orang yang baru saja mendapat interogasi karena
dituduh melakuan perampokan. Dan, dari kesemuanya itu tidak ada yang berani
mengajakku bicara atau mendengar celotehku.
Hmmm … alasan apa yang harus kukatakan
kepada Linda ya?
Bukan salahnya sih, Aku aja yang dengan
bodoh tidak teliti.
Lamunanku
dikejutkan oleh sebuah SMS.
“Hay Hans,
lagi sibuk ya? Aku lagi ada di Bogor
nih. Hm, fotografernya payah. Nggak professional, amatir beda sama kamu.
Lagipula nggak co-operatif banget deh. Tapi, pemandangannya sih bagus banget
Hans. (11:50, Julia)
Suasana
hatiku yang sedang kacau ini membuatku tak menggubris SMS dari Julia. Aku malah
duduk di ruanganku. Kuaktifkan winamp dan kupasang earphone di telingaku. Kulihat beberapa offline
messages dari teman-temanku dan juga Linda.
Linda
:Gimana meeting sama bossnya? Jangan lupa makan siang ya, Hans? Tapi, jangan
banyak-banyak ‘kan nanti sore mau
makan spaghetti dirumahku. Aku tunggu ya?
Galuh : Bro,
hari Minggu nanti ada kumpul-kumpul sama anak-anak IPA 2 di PS (Plasa Senayan,
red). Dateng ya?
Benny :
Hans, gue tadi abis hunting tempat. Tema kali ini kita bakalan ke
Bali ya? Tadi gue dapet referensi tempat bagus untuk
edisi akhir tahun kita di Bali. So, prepare ya!
Kemudian
kudengar HP ku berdering berkali-kali.
Nama Julia
yang keluar di layar HP ku. Tapi, malas sekali rasanya untuk mengangkat. Lagi
nggak mood hari ini.
Sorry Julia, gue lagi nggak mood untuk
ngobrol siang ini.