 Kanker
usus termasuk dalam jenis kanker yang paling sering terjadi di dunia.
Di Indonesia, penyakit itu kini banyak diderita orang berusia di bawah
40 tahun, di mana itu adalah usia produktif seseorang.
Kanker usus besar (kolorektal) adalah
tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau
rektum. Penyakit ini sering dijumpai di masyarakat dan termasuk salah
satu kanker yang dapat disembuhkan dan dicegah penyebarannya.
Meski begitu, penyakit ini tergolong
fatal karena diperkirakan 50 persen penderita kanker kolorektal
meninggal karena penyakit ini. Dr.Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, dari
Departemen Penyakit Dalam RSCM, menjelaskan bahwa gaya hidup menjadi
salah satu penyebab munculnya kanker usus.
"Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang
tinggi lemak seperti fast food atau gorengan adalah salah satu penyebab
kanker usus," paparnya. Selain gaya hidup, polip pada usus juga
dianggap meningkatkan resiko penyakit kanker ini.
Ia menuturkan salah satu bukti
mengenai kaitan antara gaya hidup dengan kanker usus. Beberapa puluh
tahun lalu Jepang adalah negara dengan jumlah penderita kanker usus
terkecil di dunia karena masyarakatnya melakukan diet makanan.
Namun kini angka penderita kanker usus
dari generasi ke-dua orang Jepang yang bermigrasi ke Hawaii sudah sama
dengan jumlah penderita di Eropa dan Amerika. "Kemungkinan besar karena
anak-anak Jepang yang tumbuh di Hawaii banyak mengkonsumsi junk food,"
ujarnya.
Gejala-gejala awal penyakit ini antara
lain pendarahan pada usus besar yang ditandai dengan ditemukannya darah
pada feses saat buang air besar, diare atau sembelit tanpa sebab yang
jelas dan berlangsung lebih dari enam minggu, penurunan berat badan,
nyeri perut, serta perut masih terasa penuh meski sudah buang air besar.
Terkadang pasien lambat memeriksakan
diri ke dokter karena gejala kanker usus yang relatif bergejala ringan
dan berkaitan dengan saluran cerna seperti rasa kembung di perut, rasa
sakit serta sembelit.
Diagnosa
Untuk mendiagnosa penyakit kanker
usus, doker akan melakukan pemeriksaan laboratorium lewat pemeriksaan
tinja serta pemeriksaan kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi dilakukan
dengan memasukkan pipa lentur yang dilengkapi kamera dan jarum biopsi.
Melalui pemeriksaan
ini selaput lendir usus besar dapat dilihat
dan bagian yang mencurigakan dapat dipotret serta dibiopsi
(diambil sedikit jaringan). Pemeriksaan
kolonoskopi relatif aman, tidak berbahaya, hanya
memang pemeriksaan ini tidak menyenangkan.
Sementara itu, pilihan terapi para
pasien kanker usus sangat tergantung pada stadium, posisi, ukuran dan
penyebaran kanker. Operasi merupakan pengobatan utama kanker kolateral
yang bisa dikombinasikan dengan radioterapi dan kemoterapi.
Lewat kemajuan dunia farmasi dan
kodekteran, saat ini sudah ditemukan obat kanker kolorektal yang dapat
menghambat pertumbuhan kanker sampai dengan empat bulan dibandingkan
dengan hanya pemberian kemoterapi saja.
Cara kerja obat ini adalah dengan
memblokir protein VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) yang
mensuplai darah ke tumor. Akibatnya tumor mengecil, atau menyebar lebih
lambat.
Usia produktif
Kanker usus biasanya ditemukan pada
pria dan wanita yang berusia di atas 50 tahun. Namun seiring dengan
perubahan gaya hidup, kini 50 persen penderita kanker ini berusia di
bawah 40 tahun atau berada pada usia produktif saat mereka sedang sibuk
membangun karir.
"Kanker kolon kini banyak diderita
orang muda dan umumnya mereka datang pada stadium lanjut yang harapan
kesembuhannya kecil," kata Dr.Johan Kurnianda, Kepala Departemen Divisi
Onkologi Fakultas Kedokteran UGM.
Selain karena gejala penyakit kanker
usus yang tidak spesifik, budaya malas memeriksakan diri ke dokter
menjadi penyebab pasien baru datang ke dokter saat kanker sudah pada
stadium lanjut.
"Masyarakat kita sering malas langsung
datang ke dokter, sudah begitu mereka lebih suka melakukan pengobatan
alternatif," keluh Dr.Johan.
Menurut Dr.Aru, sebenarnya penyebaran
kanker usus tergolong lambat, karenanya ia menganjurkan agar masyarakat
melakukan deteksi dini. "Lakukan pemeriksaan tinja setiap tiga bulan
sekali. Selain itu perhatikan apakah ada perubahan pola buang air besar
dan perubahan bentuk tinja, terutama jika ditemukan ada darah,"tuturnya.
Dengan cara ini diharapkan kanker
kolon akan terdiagnosis pada tahap dini, karena jika sudah sampai pada
stadium lanjut pengobatan yang dilakukan hanya untuk meningkatkan
harapan hidup dan kualitas hidup pasien.
Sebelum terlanjur menderita kanker,
mungkin akan lebih bijaksana jika kita melakukan pencegahan dengan cara
melakukan gaya hidup sehat yang sebenarnya tidak sulit.
Bukankah menjauhi makanan berlemak dan
gorengan, serta berolahraga secara teratur jauh lebih murah dan mudah
dibandingkan jika harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk
pengobatan kanker ?

 | makasih ya dek infonya... secara aku juga mulai menerapkan pola hidup sehat... :) |
 | @wandaruni : sama-sama mbak ... aq juga padahal tiap pagi makan gorengan ... tapi dah beberapa hari ini mengurangi hihihihiihhi .. dan mulai minum air putih (biasanya males bangetttt) |
 | Minum kopi 2 cangkir sehari katanya bisa mengurangi resiko terkena kanker usus... |
 | @sutonokairos : mengurangi resiko terkena kanker usus akan tetapi menambah resiko terkena penyakit lainnya =P |
 | @sutonokairos : ihhihiihihhii ... kalau saya minum kopi cuma pas weekend sebagai teman nonton bola =P |
 | Kalo aku, mo ngopi apapun, 3 in 1, black, capucino, dll... udahannya pasti langsung nagih ke toilet trus .... *sensor* ... aaahhh lega... |
 | daku mah pasrah aja ma yang di atas. ha...ha... susah sih mau sehat. |
| |