Blog Entry[Nice Article] Hidangan Laut Ramah Lingkungan Sep 12, '06 5:01 AM
for everyone
Buat pecinta seafood, harap dibaca nih buat panduan 
 
Demi gengsi orang kerap lupa apa yang diperbuatnya justru merugikan alam. Gaya hidup sebagian orang kota yang gemar makan hidangan laut yang eksotik, misalnya, membuat populasi ikan tertentu menjadi langka.

Tengoklah keriuhan di tempat makan kaki lima hingga restoran seafood. Di sana sudah jamak orang memesan hidangan lobster, telur penyu, telur ikan, ikan baronang, tripang, udang, atau ikan kakap. Padahal, bahan makanan itu termasuk biota dan ikan yang semakin menipis ketersediaannya di laut. Penurunan populasinya tak lepas dari penangkapan yang dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar terhadap ikan dan biota laut itu. Selama permintaan tetap ada, penangkapan tak akan berhenti.

Sekadar contoh, di Karimun Jawa, dulu nelayan langsung membuang ikan kerapu bila ikan itu ikut terjaring. Tapi begitu tahu harganya tinggi, nelayan langsung menangkap besar-besaran. Sekitar tahun 2000 boleh dibilang, kerapu menghilang dari Karimun Jawa dan kini masih dalam taraf pemulihan.

Maka, cukup beralasan kalau pada pertengahan 2005, organisasi pelestarian lingkungan dunia, WWF mencanangkan program "Laut Sehat Seafood Sehat: Panduan Konsumen untuk Seafood Ramah Lingkungan". Program ini memberi panduan pemanfaatan ikan dan biota laut dalam tiga kategori: aman, kurangi, dan hindari.

Yang termasuk dalam daftar ikan dan biota yang aman dikonsumsi antara lain teri, tongkol, bandeng, bawal, lemuru (sarden), layang, cakalang, makarel kecil, tenggiri, cumi-cumi, tuna ekor kuning, dan ubur-ubur. Ikan dan biota yang pemanfaatannya dikurangi ada 17 jenis, di antaranya lencam, telur ikan, ekor kuning, kepiting bakau, layaran (marlin), gurita, baronang, tripang, udang, kakap, dan pari.

Sedangkan yang harus dihindari pemanfaatannya ada 16 jenis antara lain abalon, ketam kelapa, kerapu, udang karang (lobster), dan yang eksotis macam lumba-lumba, hiu, kima raksasa, duyung, dan penyu berikut telurnya.

Kategorisasi itu berdasarkan empat alasan yang dianggap tak ramah lingkungan. Yaitu dilindungi secara hukum, perkembangbiakannya lambat dan sedikit, cara penangkapannya merusak habitat, serta berbahaya bagi kesehatan karena mengandung logam yang tertumpuk di tubuhnya.

Maka, adalah bijak kalau kita mengonsumsi seafood berbahan ikan atau biota laut yang masuk kategori aman. Selain tidak melanggar hukum, kita bisa menjaga kelestariannya dan, yang terpenting, terhindar dari racun yang mungkin ada di dalamnya. Bahkan, konsumsi seafood dianjurkan. Pasalnya, konsumsi ikan orang Indonesia termasuk rendah di ASEAN. Pada 2003, konsumsinya hanya 24,67 kg/kapita/tahun. Bandingkan dengan Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand yang 70, 50, 40 dan 35 kg/kapita/tahun.

Sebaliknya, kita perlu menahan nafsu untuk mengonsumsi ikan dan biota laut yang masuk kategori kurangi dan hindari. Sementara, para pemasok ikan dan biota laut perlu berpikir untuk mengubah pola penyediaan dari menangkap menjadi membudidayakan. Saat ini telah disepakati adanya daerah tabungan untuk program perlindungan tempat pemijahan ikan di daerah-daerah kritis di Taman Nasional Bunaken, Bali Barat, dan Karimun Jawa.

Kalaupun penangkapan tak terelakkan, sebaiknya beri kesempatan ikan dan biota laut untuk tumbuh dewasa dan berkembang biak dulu, atau pilah-pilih yang akan ditangkap dan dikonsumsi. Sekilas cara ini bertentangan dengan usaha nelayan meningkatkan kesejahteraannya. Tapi cara ini justru menjamin kelangsungan mata pencaharian nelayan itu dalam jangka panjang. Jadi, nelayan tetap bisa melaut, penyuka seafood pun tetap terpenuhi selera mengonsumsi ikan laut favoritnya. (Christ)



20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
agne5 wrote on Sep 12, '06
Terimakasih infonya Ndu... hmmm mengingat gw emang penggemar sea food ;p... hehehehe
gintsya wrote on Sep 12, '06
gw pecinta telur puyuh. begitu tau kalo populasinya termasuk langka..yah....terpaksa mundur. masih banyak kok seafood yg bisa gw embat. :)
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@agne5 : sama-sama ... ya berbagi artikel aja , walaupun bukan artikel sendiri sih :">

@gintsya : kayanya ngga deh ... lagipula puyuh kan burung sayank bukan penghuni lautan ... gimana ciyyy =P
agne5 wrote on Sep 12, '06, edited on Sep 12, '06
Gw tadi mo bilang gitu ama si Gina Ndu... cuma ga tega euuuuy... napa atuh Neng Gina meuni ga nyambung pisan hari ini yah...?? :p... apa jangan2 kita aja yang ga tau ada penghuni lautan yang namanya puyuh *berpikir keras*
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@agne5 : emang, nes... gina anaknya gitu. Suka nggak nyambung ... apalagi kalo orderan pernak-pernik lagi sepi ... lo mau bantu jualin nes? ada kalung, anting, macem2 deh ... murah koq ... yah itung2 bantu temen biar bisa tersenyum lagi ... kan dia lagi nyari tambahan buat lebaran trus jga buat ganti hapenya yang dah butut itu
be2ny wrote on Sep 12, '06
club vegyta kemana nih :)
winduradityo wrote on Sep 12, '06
be2ny : kayanya di MP kebanyak omnivor deh alias pemakan segala ,,, yang tadinya vegyta bisa jadi karnivor =P
sutonokairos wrote on Sep 12, '06
Ikan kembung ga apa apa kan? hihihih.... *penggemar ikan kembung goreng kering pake kecap ama cabe rawit diiris-iris*
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@sutonokairos : kalo nggak ada berarti aman =P
reipras94 wrote on Sep 12, '06
tengkyu nih atas imponya...secara kita termasuk keluarga pemakan seafood...makelum orang bugis.....
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@reipras94 : sama-sama, Mas ... ya ikut2 membantu lingkungan lah (hihihihihihi)
alvian wrote on Sep 12, '06
Wah di kampung doi, ikan kerapu banyak banget tuh...g mancing aja sekali lempar ga lama lgsg dapat ikan kerapu..tapi kok ga dilarang yah disana?yang dilarang berburu/mancing hiu karang sama penyu dan udang macan doang..
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@alvian : ya mungkin belum di himbau untuk masyarakat sekitar sana =)
gintsya wrote on Sep 12, '06
bo...kan gw lagi sakit...maklumin yah...maksud akika tuh telur PENYU hehehehehehehhehe
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@gintsya: ya ampyunnnn ... gina? gak kesiyan apa sama keberadaan mereka ... huhuhuuhuhhu ... tadi bilangnya telur puyuh .... sekarang penyu ?
gintsya wrote on Sep 12, '06
iye..PENYU.! makanya skarang gw udh gak makan itu lagi. padahal uenak bgt!!
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@gintsya : bagus deh ... gitu donk anak manis =P
gintsya wrote on Sep 12, '06
puiihhh
gintsya wrote on Sep 12, '06
kabur bawa penyu
winduradityo wrote on Sep 12, '06
@gintsya : baru di puji dikid udah maling penyu ... dasar !!!!!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help