Beberapa
tahun silam, setiap satu hari menjelang Ramadhan biasanya kami
sekeluarga melakukan satu kegiatan bersama. Seluruh anggota keluarga
berkumpul, tanpa kecuali, untuk bersama-sama membersihkan rumah. Setiap
sudut dan sisi rumah dibersihkan, dari pagar, teras, kamar mandi hingga
gudang. Ibu sudah mengatur tugas masing-masing dan seperti tahun
sebelumnya, saya mendapatkan bagian paling basah, kamar mandi.
Bagi
kami, rutinitas tahunan seperti ini amatlah menyenangkan. Disitu
terlihat kekompakan dan kebersamaan semua anggota keluarga untuk
membersihkan istana kecil yang selama ini menjadi tempat kami bernaung,
berteduh dan terlelap menikmati mimpi-mimpi sederhana kami. Walaupun
sebenarnya, tanpa acara bebersih total semacam ini, meski sederhana
namun istana kecil kami senantiasa terlihat asri dan bersih setiap
harinya.
Dan
ketika saya coba tanyakan itu kepada ibu, lembut bibirnya berucap, "Apa
abang mau hari ini nggak mandi? Kita harus bersih setiap hari kan?"
"Iya, tapi kenapa ini berbeda dari hari lainnya?" tanyaku lagi
"Karena besok tamu istimewa akan tiba. Sepantasnya kita menyambutnya dengan cara yang istimewa juga," terang ibu kemudian.
Maka
dimulailah tugasku. Sementara Abang dan adik-adik saya harus berkutat
dengan debu di halaman depan, teras, juga gudang, saya menghabiskan
waktu beberapa jam dengan kubangan air untuk membersihkan kamar mandi.
Sepintas kamar mandi kami terlihat bersih, sehingga,
"Kamar mandi kita masih bersih kok bu ..." ujarku nakal untuk menghindari pekerjaan berat.
"Jangan
tertipu dengan pandangan pertama. Yang terlihat bersih belum tentu
benar-benar bersih. Coba perhatikan lebih dekat, banyak noda hitam di
sudut-sudutnya ..." ajar ibu.
Ibu
benar. Setelah kuperhatikan, banyak sekali noda hitam di celah-celah,
sudut dan juga ruas keramik lantai kamar mandi. Segera kuambil
peralatan pembersih seperti sikat lantai dan sabun pembersih.
Mulanya
kusiram dengan air berkali-kali, tapi noda hitam itu tidak juga hilang
dari dinding dan lantai. Hingga satu ember air habis, tak juga hilang.
Ibu yang sejak tadi memperhatikan, berujar, "Tidak semua noda bisa
hilang hanya dengan menyiramnya dengan air, sebanyak apa pun air yang
Abang siapkan"
Lalu
saya menyikat noda hitam itu. Sekali sikat tak hilang, berkali-kali
kucoba, hanya sedikit. Masih banyak noda tersisa di lantai dan
nampaknya sudah begitu merekat di dinding sehingga teramat sulit untuk
dihilangkan. Suara ibu kembali terdengar, "Susah kan kalau noda tidak
dibersihkan setiap hari? Noda-noda itu sebenarnya tidak terlihat, tapi
justru karena tidak terlihat itu kita menganggap ruang ini tetap
bersih. Karena tidak pernah dibersihkan, semakin hari noda itu semakin
jelas pekatnya."
Tidak
cukup dengan air dan sikat, saya pun menggunakan sabun pembersih untuk
membantu menghilangkan noda-noda itu. Dan, setelah beberapa butir peluh
menetes, akhirnya bersih juga kamar mandi itu. Saya dan ibu saling
berpandangan lega memperhatikan hasilnya.
Sebelum
keluar dari kamar mandi, lagi-lagi ibu bersuara, "Seperti ini lah
sulitnya jika diri ini sudah dipenuhi dosa. Tidak cukup satu dua macam
ibadah untuk bisa menghilangkannya. Semakin banyak kita berbuat salah,
semestinya jauh lebih banyak perbuatan baik yang kita lakukan untuk
membuat diri kita bersih."
Malam
hari sebelum ibu membimbing kami dengan untaian doa dan belai lembut
usapan ibu menjelang tidur, ibu berpesan, "Perbaiki diri kita setiap
hari, karena kita melakukan kesalahan juga setiap hari."
***
Esoknya
Ramadhan tiba. Kami semakin mengerti bahwa Ramadhan semakin indah
dijalani dengan rumah yang bersih. Juga hati yang bersih. Sekali lagi
ibu benar, noda datang tidak mengenal waktu.
Bayu Gautama