Mudik, kata ini sudah pasti nggak asing ditelinga. Setiap ada lebaran pasti identik dengan yang namanya Mudik. Yah, seumur-umur emang gue nggak pernah mudik, karena nenek gue dan sodara gue semua di Jakarta. But, mulai tahun ini yah nggak kemana-mana karena nenek gue sudah berpulang kepangkuan-Nya. Lagipula lebaran pertama mesti ngantor. Konsekuensi kerjaan gue ya nggak kenal kata libur, libur itu hanya ada dua jenis di kamus gue :
1. Libur shift atau pergantian shift
2. Libur cuti
Mudik juga berarti menjadi mandiri, yah even nggak mandiri-mandiri amat sih. Tapi, yang pasti gue nggak bisa seenaknya ganti baju karena bisa menambah cucian, makan juga mesti nyuci piring sendiri, dll. Semua itu terjadi karena pembantu mudik.
Dilain pihak mudik berarti Jakarta menjadi lengang, karena hampir sebagian penghuni Jakarta yang mayoritas pendatang pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tapi, mulai tahun lalu pemudik banyak juga yang menggunakan motor untuk pulang ke kampung halamannya. Dengan menempuh perjalanan puluhan atau bahkan ratusan km dengan motor bukanlah perkara yang mudah. Karena dibutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. KECUALI, yang mudik bisa bergantian untuk mengendarai motor. Yang disayangkan adalah kalau sekeluarga naik motor.
Mudik juga berarti 'mangsa' buat para pelaku kriminal, entah itu copet atau 'pencuri musiman', makanya keamanan di perumahan biasanya harus lebih diperketat. Entah itu menitipkan rumahnya kepada tetangga terdekat atau lapor kepada RT setempat mengenai rumah yang akan ditinggalkan. Sedangkan, di terminal atau bis tak jarang copet-copet merajalela.
Yah, finally gue cuma mengucapkan selamat mudik bagi yang mudik ... Dan, semoga lebaran kali ini masih dibawah lindungan-Nya untuk dapat menikmati lebaran bersama keluarga, kerabat, teman dan semua orang yang disayangi. Amin !