S emakin maraknya perfilman Indonesia akhir-akhir ini bisa dikatakan sebagai fenomena yang positif dalam industri film itu sendiri. Kini setidaknya hampir setiap minggu bermunculan judul-judul baru di setiap bioskop yang tersebar seantero Indonesia. Hal itu juga yang membuat persaingan di industri film pun kini semakin ketat. Dan hal tersebut juga dapat memicu penonton untuk lebih selektif lagi pada setiap judul yang ditawarkan. Jalan satu-satunya terkadang promosi yang gencar di setiap media (televisi,cetak ataupun radio) menjadi salah satu alternatif untuk menarik minat penonton. Ditilik dari segi genre pun kini bisa dikatakan semakin beragam walaupun melulu menghadirkan tema percintaan dan tetap horror yang menjadi santapan utama di kancah perfilman Indonesia. Padahal tak jarang tema-tema lain yang berbumbu komedi pun harus disisipi diantara kedua tema tadi. Setidaknya akan semakin beragam menu yang bisa dinikmati nantinya. Tapi, yang sedikit menjadi tanda tanya dari otak dibalik layar kok ya Cuma itu-itu aja. Coba saja lihat di bidang drama kita punya Nayato Fio Nuala atau berganti nama menjadi Koya Pagayo dalam genre horrornya, Monty Tiwa yang hadir di genre drama komedi dan horror, Rudy Soedjarwo dan Hanung Bramantyo yang bisa dibilang multi-genre juga dan ada juga orang yang betul-betul memperhatikan sebuah kualitas dalam karyanya mesti nggak melulu menghasilkan box office, sebut saja Joko Anwar, Nia Dinata, Dimas Djayadiningrat, Deddy Mizwar,dsb. Sekarang kita lihat dari segi pemasaran atau distributornya. 21 Cineplex atau XXI mungkin yang memegang peranan besar dalam perkembangan film Indonesia sekarang ini. Bagaimana tidak? Hampir setiap kota di Indonesia ini pasti sudah ada cabang dari mereka, dan mereka pun bisa menggelar pemutaran secara serentak setiap ada judul baru dari dunia perfilman Indonesia. Jadwal beredar untuk film Indonesia itu sendiri biasanya jatuh di hari Kamis. Dan juga mereka kini berani membanting harga yang lebih bisa terjangkau untuk dinikmati berbagai kalangan. Sebagai perbandingan dulu mungkin kita harus merogoh Rp.25.000 untuk menonton di Planet Holywood, kini Anda hanya perlu menyisihkan Rp.10.000 untuk dapat menonton ditempat yang sama untuk hari Senin-Jum’at dan Sabtu-Minggu hanya dipatok Rp.15.000. Semoga saja harga snack dan minumannya juga bisa ikut turun, nggak lucu juga ‘kan nonton Rp.10.000 terus beli softdrink juga Rp.10.000. Efeknya ? Sekarang agak sulit untuk menikmati film-film dari luar negeri. Kalau beberapa tahun yang lalu bisa 3:1 untuk film luar : film Indonesia (dengan asumsi setiap bioskop memiliki 4 studio). Sekarang ini bisa kebalikannya, atau bahkan ada bioskop-bioskop yang memutar film Indonesia semuanya. Tak jarang 21 maupun XXI sekarang lebih selektif lagi setiap membeli film-film dari luar. Bilapun ada film yang coming soon atau segera, kini kita harus bersabar untuk menunggu lebih lama (itu untuk yang di ibukota), lain lagi dengan yang didaerah. Terkadang mereka tidak ada kiriman film luar yang update. Hmmm … jadi terbersit sebuah pemikiran tentang peredaran film tersebut sekarang ini. Persaingan bisnis yang tadinya hanya dimonopoli oleh 21 group kini sudah disaingi oleh Blitzmegaplex yang sedang mengembangkan sayapnya. Karena memiliki cabang seantero Indonesia mungkin akan terasa berat bila 21 membekali atau meng-update setiap bioskop yang mereka miliki dengan film-film luar terbaru. Lain halnya dengan Blitz yang baru memiliki beberapa cabang. Mereka dengan mudahnya menayangkan film-film luar terbaru. Itu dapat terbukti ketika Saya sendiri ingin menonton film luar, ketika melihat jadwal tayang di Blitz yang ada malah pusing sendiri, karena terkadang mereka menawarkan beragam menu film terbaru. So, apa nantinya 21 malah jadi bioskop khusus film Indonesia ya ? (windu)
 | sepertinya emng gitu.... sampe akhir 2008 aja dah lengkap jadwal tayang film indo di 21... jadinya klo film luar yg masuk sini, musti nyesuain ama jadwal edar film indo tadi.... kecuali mgkn film2 mainstream..semacam batman, harpot, dll.... |
 | @arddhe : nah, berarti terjawab 'kan kenapa Horton belum sampe dikotamu ? Lha wong temenku di Jogja aja mengeluhkan Pursuit Of Happiness yang nggak tayang-tayang dikotanya, trus tempo hari temenku yang di Makassar 'kan nonton The Brave One, tapi sampe sekarang tuh film nggak nongol-nongol disana. Jadi, bioskop-bioskop 21 sekarang justru isinya film Indonesia *mostly* ... sebagai barometer kasar aja (untuk di Blok M 21 dan Bintaro 21 itu) isinya Indonesia SEMUA (^_^)v |
 | ya...saya sih dah tau jawabannya...dan pegimanapun saya menyumpah2 ama 21, ga bakal digubris...hehehe secara dadunya ada ditangan dia, monopolis sejati, dengan seenaknya mengatur apa2 yang ditayangkan dan berapa lamapun asalkan yang menonton bisa sampe jutaan orang, dan menghasilkan duit milyaran rupiah....hehe |
 | hihihiihi ... oke2 yah Saya cuma menyalurkan apa keluhan Anda tentang Horton dan korelasinya dengan artikel yang memang mau Saya posting. That's right, money oriented bro . . . So, nggak heran mau nggak mau tetep aja update film barat atau luar via DvD =P |
 | iya betul..!! makanya saya setuju bgt ama pemberantasan vcd bajakan, kualitasnya jelek... mending dvd....hahaha |
 | Wkwkwkwkwkwkwk ... Sep dech ... So, mending tunggu Horton (kualitas original aja) =D |
 | asalkan dari segi kualitas Film Indonesia itu menjanjikan..... ya kita lihat fenomena penonton sekarang... dengan HTM antara 10 - 15 ribu atau 100 ribuan kalau di MPX grande, apa yang bisa mereka dapatkan dengan HTM sebesar itu..... karena ada kecenderungan Penonton datang, duduk, nonton, pulang dengan rasa puas sebagai konsumen..... segi cerita itu urusan ke sekian... pokok-nya gak ruwet dan gak membodohi gitu aja... udah seneng... Daripada nonton suatu produk film tertentu bayar mahal buat mencaci maki... wihhh kasian banget.... Namun dewasa ini Film film Indonesia sudah bisa dikatakan mulai berbenah... Trus, kenapa Film Barat Jarang karena Faktor Piracy aja sih.. haanya itu.... kalo baca resensinya bagus.... langsung deh serbu cineplex.... belum puas di bioscope serbu Glodok.... hehehehe |
 | emang sih Mas, tapi di surabaya pernah beredar suatu berita, bhw produser Asosiasi Film Asia ngancam ama Pemerintah Indonesia gak akan mendistribusikan film bagus seperti King Kong waktu itu, kalo Pembajakan belum bersih..... akhirnya beneran mas dis alah satu pLaza di surabaya yg jual Film Bajakan pada bersih bersih... sehingga yg dijual hanya ori aja... kalo gitu di Disctarra-pun ada... Setelah operasi besar besaran... akhirnya Film film bermutu Barat masuk ke Indonesia lagi.... Mungkin pada saat ini belum ada distribusi Film Kelas A masuk di Indoensia, bbrp thn yg lalu khan banyak Film Film Bagus masuk di Indonesia yg sifatnya menghibur seperti HarrPot, Batman,,tapi ada juga Film kelas Oscar seperti Brokeback Mountain juga Floop dipasaran..... SARAN BUAT ASOSIASI DISTRIBUTOR FILM AMERIKA EROPA : jangan terlalu lama Film itu ditahan, IT kita sdh canggih, ntar keburu dapet di Internet atau media lain... malah bikin jatuh Film-nya di pasaran bioskop Indonesia..... sekali sekali.... Kota kota selain JKT, Surabaya dan Medan, kalo bisa didahulukan... (seperti Jogja, Semarang atau Malang) atau sekaligus barengan.... karena saya yakin animo masyarakat untuk menonton Film di Bioscope masih tinggi apalagi Film yg diputar dibioscope itu sdh didukung canggihnya Sound system- Bioscope tsb.... |
 | emang sih Mas, tapi di surabaya pernah beredar suatu berita, bhw produser Asosiasi Film Asia ngancam ama Pemerintah Indonesia gak akan mendistribusikan film bagus seperti King Kong waktu itu, kalo Pembajakan belum bersih..... akhirnya beneran mas dis alah satu pLaza di surabaya yg jual Film Bajakan pada bersih bersih... sehingga yg dijual hanya ori aja... kalo gitu di Disctarra-pun ada... Setelah operasi besar besaran... akhirnya Film film bermutu Barat masuk ke Indonesia lagi.... Mungkin pada saat ini belum ada distribusi Film Kelas A masuk di Indoensia, bbrp thn yg lalu khan banyak Film Film Bagus masuk di Indonesia yg sifatnya menghibur seperti HarrPot, Batman,,tapi ada juga Film kelas Oscar seperti Brokeback Mountain juga Floop dipasaran.....  Wah, jangan sampe deh alur film luar sampe macet ke Indonesia ... bisa-bisa nggak update nih. Tapi, mengenai bajakan itu sendiri sebenernya kalau pemerintah atau distributor bisa menurunkan harga original serendah mungkin juga akan membuat konsumen akan mencoba membeli original. Lagipula masalah yang major saat ini 'kan harga DvD original yang Mahal banget. Ada sih distirbutor kelas II yang mematok harga Rp.15,000 untuk setiap kepingnya. Nah, itu kan bisa meringankan kantong kita, dibanding harus keluar beratus2 ribu. Tapi, tetep aja nonton di bioskop itu 'feel'nya beda ... seenak-enaknya dirumah kalo urusan layar dan sound tetep bioskop lah jagonya! |
 | Tapi sayangnya tema ceritanya terkadang masih seragam... jadi masih ikut2an trend gitu...cuma beberapa yang berani mengetengahkan cerita tidak sesuai tren dan dengan alur cerita yang masuk akal... tidak sekedar memindahkan sinetron ke bioskop dengan treatment film... however... seenggak-enggaknya akhinya bisa bangkit lah film lokal kita setelah terpuruk sekian lamanya ^_^ |
 | yup, cuman ada beberapa film Indonesia yg kayaknya gak berani dilempar ke Bioskop ternyata langsung dilempar ke VCD atau DVD........lha....kalo gitu gimana...? |
 | hebatnya pembajak kita kayaknya gak nasionalis ya.... film Indonesia jarang bgt dibajak... mereka lebih suka membajak sawah orang barat heheheheheheheh |
 | iya bner, skrg kayanya pilem indonesia lebih diutamain, mungkin emg bagus karena itu wujud dukungan pihak distributor pilem kpd pilem produksi dlm negeri, tapi skali lagi, buat saya pilem indo itu masi lebih banyak unsur sinetron dan patut dipertanyakan kualitasnya,
saya bukannya menghakimi ya, karena sampe saat ini saya blum bs bikin pilem, =p tapi sbg penonton saya pastinya memilih kualitas dong, ato paling gak yg unsur hiburannya plg masuk akal,
rumah saya di bekasi, dan saya liat di bioskop 21 Metropolitan Mol skrg udh kaya displaying pilem indo aj, trus terang saya jd males nonton disitu, otomatis saya nyari tempat nonton yg jauh2 kaya semanggi 21 (yg g pernah ada pilem indo) ato gading XXI, sedihnya...=((( |
 | iya bner, skrg kayanya pilem indonesia lebih diutamain, mungkin emg bagus karena itu wujud dukungan pihak distributor pilem kpd pilem produksi dlm negeri, tapi skali lagi, buat saya pilem indo itu masi lebih banyak unsur sinetron dan patut dipertanyakan kualitasnya,
saya bukannya menghakimi ya, karena sampe saat ini saya blum bs bikin pilem, =p tapi sbg penonton saya pastinya memilih kualitas dong, ato paling gak yg unsur hiburannya plg masuk akal,
rumah saya di bekasi, dan saya liat di bioskop 21 Metropolitan Mol skrg udh kaya displaying pilem indo aj, trus terang saya jd males nonton disitu, otomatis saya nyari tempat nonton yg jauh2 kaya semanggi 21 (yg g pernah ada pilem indo) ato gading XXI, sedihnya...=(((  Hehehe, bukan menghakimi tapi emang kenyataan, jadi cuma sebatas kualitas FTV yang di layar lebarkan (halah bahasanya ga bagus bgt ya?) ... Meskipun nggak semuanya sih, tapi gue selalu menerima apapun bentuknya film itu. Cuma kedepannya semoga diperkaya lagi genre-genrenya. Mungkin film anak-anak lagi? atau animasi , atau action(tapi bukan mengedepankan unsur-unsur seks aja) ...
Kenapa nggak nonton di Giant XXI aja ? kalo di metmol isinya indo semua :D |
 | Untuk menilai bagaimana sih film/sinetron Indonesia sekarang, harus dikaji asal muasal nya kenapa bisa begitu. Film layar lebar animo penontonnya sudah banyak tersedot televisi (tv), sedangkan tv tolok ukur baik dan tidaknya sebuah film/sinetron dinilai dari sipemasang iklan bukan dari penonton ......wajarlah setasiun tv butuh duit masuk supaya tetap eksis. Sedangkan penonton Indonesia yang masih menggemari film layar lebar, sebagian besar tidak bisa melihat film Indonesia yang berkualitas. Bagus itu butuh biaya banyak, kalau tidak ada yang nonton rugi dong,............. Jaka Anwar misalnya membuat "Kala",........ternyata penonton Indonesia tidak merespons. Jangan bilang jelek dong kalau nonton aja kagak,.......ha ha ha ha. Nasib yang sama juga menimpa "Cabaukan" nya Nia Dinata. dan masih banyak film yang berkualitas lainnya. Kalau buat kue habis modal seribu perak cuman laku limaratus perak,.........tentu kue berikutnya akan bermodal di bawah limaratus perak dong biar untung. Komplin kuenya kagak enak he he he
|
| |