Russia asuhan Guus Hiddink berhasil menundukkan Belanda yang diasuh Marco Van Basten. Faktor pengalaman mungkin adalah faktor utama alam duel Russia vs Belanda. Walaupun Russia bukanlah tim unggulan dan merekapun sempat dipermak oleh Spanyol 4-1 namun mereka bisa bangkit di dua pertandingan berikutnya dengan mengandaskan Juara Bertahan Yunani 1-0 dan Swedia 2-0. Kedua pertandingan itu pun dilakoni dengan pola penyerangan yang mirip sekali dengan permainan Belanda.
Belanda yang mengusung Total Football modern(kalo kata Indra Lesmana), harus menelan pil pahit. Mereka dibuat mati-kutu oleh pola penyerangan yang mirip sekali dengan yang mereka peragakan selama babak penyisihan grup. Russia tak segan-segan menumpuk pemainnya ketika kehilangan bola untuk kemudian melancarkan serangan balik ketika menguasai bola. Gol pertama mereka yang dicetak Pavlyuchenko membuktikan hal tersebut. Gol balasan yang dibuat oleh Belanda pun hanya dihasilkan melalui set piece tendangan bebas. Sundulan Van Nistelrooy tak dapat diantisipasi oleh kiper Russia, Akinfeev.
Dibabak perpanjangan waktu 2x15 menit toal adalah milik Russia. Stamina yang mereka miliki lebih unggul dari Belanda. Alhasil mereka bisa membuat 2 gol tambahan yang mengubur ambisi Belanda untuk melangkah lebih jauh atau bahkan mengulang masa emas mereka ketika menjadi juara 20 tahun silam.
Spanyol tak pernah menang setiap bertemu Italia di turnamen resmi. Hal tersebut yang mungkin ingin dipatahkan oleh anak asuh Luis Aragones. Italia yang turun tanpa Andrea Pirlo dan Gennaro Gatusso yang absen karena akumulasi kartu harus menerima dominasi Spanyol yang digalang oleh David Silva-Xavi-Senna-Iniesta. Penguasaan bola yang rapi, umpan yang akurat dan pertahanan yang kokoh menjadi kunci permainan Spanyol. Italia dibuat tak berdaya untuk meladeni serangan-serangan yang dilancarkan oleh Torres dan Villa.
Faktor Gianluigi Buffon dan Chiellini yang membuat Italia dapat menahan imbang Spanyol tanpa gol selama 90 menit plus perpanjangan waktu 2x15 menit. Walaupun ada beberapa peluang yang dimiliki Italia, semua itu pun kandas ditangan Casillas. Luca Toni sekali lagi tampil sangat-sangat mengecewakan! Sebagai bomber tim nasional, Top skorer Liga Jerman seharusnya Ia dapat menunjukkan kapasitasnya. Namun yang ada selama turnamen, atau tepatnya 360 menit + (2x15 menit) perpanjangan waktu saat melawan Spanyol tak satu pun Ia mencetak gol ! Suatu catatan buruk untuk bomber sekelas Toni. Italia pun harus menyusul Portugal, Kroasia dan Belanda pulang kampung lebih awal.