 Tidak ada alasan buat Orang Cengeng!
Dalam ulasan tamu Goal.com ini, Gavino Nieddu membicarakan isu tudingan
konspirasi yang sering terjadi, mengatributkan keberhasilan Juve yang
konsisten di Italia sebagai hasil dari tindak penyuapan dan korupsi,
dan bukan merupakan hasil dari pemain sepakbola dan taktik sepakbola
yang lebih baik.
Cukup sudah saya sudah terlalu banyak mendengarnya. Kalian semua
(majalah, Koran, highlight show, website) sudah berhasil mengacaukan
apa yang dulunya adalah olahraga yang bagus. Saya menyenangi Serie-A
tapi seluruh upaya yang kalian lakukan kepada Liga ini menurunkan
kualitasnya sampai menjadi lelucon. Saya tinggal di Kanada, mayoritas
teman saya adalah fans hoki, sepakbola Amerika, basket dan baseball.
Mereka menertawakan saya saat melihat saya sedang mengerjakan sesuatu
yang berhubungan dengan sepakbola Italia karena kita saat ini dipandang
sebagai tukang mengomel dan cengeng. Tidak ada penggemar olahraga lain
yang secengeng penggemar sepakbola Italia.
The Yankees mendominasi liga, tidak ada yang menyalahkan wasit. The
Maple Leafs kekeringan prestasi selama 40 Tahun, sama sekali tidak ada
yang berasumsi ini adalah kesalahan wasit. Juve memimpin perebutan
scudetto, dan tiba-tiba harus ada pihak yang jadi kambing hitam di
suatu tempat…di mana saja! Kalian sudah pernah mencoba masalah
penyuapan wasit, penyalahgunaan steroid, daripada cukup menerima saja
bahwa Juventus adalah tim terkuat di Italia. Tingkah seperti ini sudah
hampir kekanak-kanakan…
Saya sering menonton sepakbola. Saya akui, saya simpati kepada
Juventus, utamanya terhadap kiprahnya di Eropa. Tetapi skuad andalan
saya adalah Cagliari. Saat saya menyaksikan Juve-Cagliari bulan Mei
silam di Delle Alpi, saya ada di bagian Away, menggunakan jersey Zola
dan mengibarkan bendera Sardo. Jadi, anda bias singkirkan pikiran bahwa
saya cenderung mendukung Juve. Anggapan seperti itu tidak cocok.
Tahun ini saya ingin memuaskan rasa ingin tahu saya. Apakah Juve
benar-benar dominant, atau tudingan-tudingan yang tanpa henti itu
sebenarnya betul? Jadi, saya menganalisis, dan saya harap kalian juga,
sebelum menuding-nuding. Saya ingin tahu, apa ada perbedaan dalam
masalah disiplin antara klub-klub besar, jadi saya mulai menghitungnya.
Saya menghitung 1 untuk setiap kartu kuning dan 2 untuk kartu merah.
Saya temukan Inter mendapat 70, Milan 52, dan Juve di antara keduanya
dengan 61. Dalam pendapat saya, sepanjang 35 pertandingan, perbedaan 9
kartu tidaklah cukup jauh.
Jadi ini bukan masalah "hukuman kartu". Barangkali Juve dapat lebih
banyak penalty daripada yang lain? Tanyaku. Jadi saya menghitung. Juve
mendapat 3 penalti sepanjang musim, Inter 5. dan Milan 7. perbedaan ini
bias mengubah posisi mereka. Bisakah sekarang kita katakan Juve lebih
banyak di"Bantu"? mereka dapat yang paling sedikit; Milan justru yang
paling banyak memperolehnya. "Barangkali Juve terlalu sedikit dihukum
penalty?" jadi saya kembali menghitung, Juve kena 3, Inter dan Milan
masing-masing 2 kali. Tidak ada perbedaan yang signifikan disini, tapi
setidaknya tidak bisa pula dikatakan bahwa Juve lebih diuntungkan.
Kita semua tahu bahwa masih banyak hal lain yang bisa dihitung, jadi
mari kita coba menghitung saat dimana point diperoleh secara meragukan.
Hal ini agak sulit karena pasti berhubungan dengan opini, tetapi
terlalu sering terjadi untuk diabaikan. Ingat gol Del Piero yang
dikatakan offside saat melawan Udinese? Itu adalah kemenangan bagi
Juve, sementara seharusnya seri, kuakui itu. Dengan begitu, Juve
mendapat tambahan 2 point tidak seharusnya pada pertandingan itu. Saya
juga perhatikan pertandingan lawan Cagliari yang dianggap terjadi
korupsi waktu karena wasit memberikan tambahan 5 menit waktu yang
membuat Juve bisa menyamakan kedudukan. Jujur saja, walaupun saya
adalah fan Cagliari, saya bisa mengerti tambahan 5 menit itu. Ada
penalty (terhadap Juve) dan kartu merah yang bisa memperpanjang
pertandingan sampai masa injury..tapi hitung jugalah, agar tidak
terlalu membuat para anti juventino terlalu tegang. Jadi mereka
memperoleh point tidak adil sebanyak 3 point. Sekarang, untuk adilnya,
kita juga harus menyebutkan penalty bersih yang "tidak dilihat oleh
wasit" tapi seharusnya diperoleh Ibra saat lawan Chievo, yang
mengakibatkan Juve tidak menang. Saat itu, mereka Cuma memperoleh 1
point. Akhirnya, setelah 35 pertandingan, Cuma ada surplus 1 point
antara "yang menguntungkan" dan "yang merugikan" Juve.
Tidak satupun keputusan wasit dalam musim ini yang menyebabkan baik
Inter atau Milan kehilangan point. Silahkan, cari contoh, dan saya
yakin peraturan FIFA tidak sesuai dengan itu. Namun saya menemukan
beberapa hal dimana mereka justru diuntungkan oleh keputusan wasit.
Ingat injusry time yang terlalu lama – 5 menit – yang menyebabkan
Inzaghi bisa mencetak gol? Kalau hal itu dianggap menguntungkan buat
Juve, kenapa kepada Milan tidak? Itu bisa dianggap 2 point surplus
untuk Milan. Inter lebih parah lagi. Saya melihat sejumlah gold an
penalty yang bisa diperdebatkan dan gol yang dianulir secara salah yang
memberikan mereka kemenangan atas Lecce, Cagliari, dan Treviso, seri
dengan Lazio, dan akhirnya dapat point surplus 7. tidak setuju? Sekali
lagi, silahkan cari bukti bahwa Juve lebih banyak diuntungkan
dibandingkan kedua klub tersebut.
Belum lama, muncul isu doping. Seluruh ofisial Juve ditahan dan
dipermalukan. Semua media membicarakan hal tersebut. Kemudian
pengadilan Italia menemukan seluruh kasus yang diajukan tidak benar dan
Goal.Com tidak tertarik untuk menulis lebih banyak tentang itu, maka
upaya dalam hal ini gagal total. Sekarang, ada cerita baru. "klub-klub
kecil" Italia akan membiarkan diri mereka dikalahkan Juve dan akan
bertarung sekuat tenaga melawan Milan untuk "memberikan" scudetto
kepada Juve. Yang ini adalah favorit saya.
"Kenapa Messina bermain sangat keras?" barangkali untuk menghindari
degradasi. Pintar. Kenapa Treviso bermain sangat keras melawan Juve?"
Mengapa Cagliari juga begitu? Kenapa tim-tim seperti Roma, Lazio,
Chievo dan Fiorentina nampaknya memberikan perlawanan terbaik mereka
melawan Juve? Juve adalah musuh masyarakat nomor satu di Italia karena
mereka adalah tim tersukses di Italia, dan semua tim yang berhadapan
dengan mereka akan memberikan permainan terbaik mereka. Kok dikatakan
tim-tim seperti ini akan memberikan kemenangan buat Juve? Yang ini
sudah kelewatan bodohnya.
Saya sarankan anda untuk mengingat kembali saat Miccoli dipinjamkan ke
Perugia. Perugia berhasil menyisihkan Juve dari Coppa Italia dan
menahan mereka saat perebutan scudetto. Ingat siapa yang bikin gol?
MIccoli. Karena dia berupaya untuk dipanggil kembali oleh tim yang
lebih besar. Orang kecil ini selalu ingin bisa bermain cemerlang saat
lawan tim-tim besar, dan tidak ada yang lebih besar daripada Juventus.
Upaya yang cukup bagus, "Paisan" tapi anda butuh cerita yang lebih
berdasar lagi nanti. Saya yakin kita akan segera mendengarnya. Sangat
sulit buat para penggemar sepakbola Italia untuk menelan kenyataan
bahwa tim kesayangan mereka bukanlah yang terbaik. Saya akan bersedia
menjadi contoh. Tim saya selalu berada dalam perjuangan untuk lolos
dari degradasi. Mereka jarang menyelesaikan pertandingan dengan 11
pemain di atas lapangan, dan mereka menjadi tim yang terbanyak
mengoleksi kartu di Serie-A dengan 105, dan punya pemain yang terbanyak
diberi kartu di liga (Daniele Conti). Bila akhirnya mereka
terdegradasi, anda tidak akan mendengar saya mengomel soal macam-macam
dan ofisial. Saya jamin, karena saya adalah laki-laki.
Gavino Nieddu

 | i'm juvenisti... delle alpi, jamannya marcello lippi pippo-del piero-zidane-edgar david sampe pavel nedved... ah, jaman itu sudah berlalu |
 | welcome sis ... gw juga juvenisti ... disini gw cuma mau memberikan beberapa fakta buat temen" gw yang 'benci' juventus. Dan, gw translate ini dari article di situs goal.com :) |
 | sampe di translate..niat... |
 | Gw tipe orang yang suka meng-counter berdasarkan data dan fakta ... bukan asal cuap" aja, *kecuali topik yg ringan* ...
meskipun ini bukan asli tulisan gw ... :)
|
| |