| |
^Windu's posts with tag: world cup 2006
Akhirnya drama final Piala Dunia 2006 berakhir sudah. Kedua pemain tersebut sudah mendapatkan hukuman. Zinedine Zidane didenda 3.260 poundsterling dan skorsing 3 partai
(berhubung Zidane sudah pensiun maka Ia diwajibkan kerja sosial selama
3 hari bersama anak-anak dan para pelajar) sedangkan Marco "Matrix"
Materazzi didenda 2.170 poundsterling dan skorsing 2 partai.
Sesuai keterangan Zidane, perkataan Materazzi lebih ke arah fitnah terhadap keluarganya dan TIDAK BERSIFAT RASIS. Dan juga gelar pemain terbaik (Golden Ball) Zidane tidak akan dicopot.
  
Sesuai
yang Saya tulis kemarin, kalau Saya selalu berusaha bersikap objektif
dalam menanggapi suatu hal. Maka disini Saya akan lampirkan hasil
wawancara Zidane tadi malam. Diluar Saya mendukung Italy, memang sangat
disayangkan sikap Materazzi dengan provokasinya. Saya berani berbicara
karena Zidane sudah mengeluarkan statementnya. Tapi, sekali lagi TIDAK semua orang di ITALY seperti MATERAZZI. Dan, itu personality dari MATERAZZI bukan semua pemain ITALY.
Buat Saya tetap tindakan itu tidak dibenarkan "dalam kacamata
pertandingan Piala Dunia" yang disaksikan jutaan pasang mata, anak
kecil sampai dewasa diseluruh dunia. Mungkin kata-kata teman Saya ada
benarnya, mendingan Zidane seusai pertandingan nyegat Materazzi dan
minta penjelasan atas kata-katanya. Atau mungkin Zidane ingin
"menghukum" Materazzi dengan mengorbankan perjuangan timnya dilapangan
dan harapan seluruh negaranya bahkan pertandingan terakhir dalam karir
sepakbolanya.
Mungkin benar ini bukan soal rasis apalagi sampai melebar ke agama.
Zidane mengakui ini semua tentang ibu dan adiknya. Jadi, untuk yang
kemarin-kemarin membahas masalah agama please kesampingkan itu semua.
Makanya Zidane marah karena ini orang terdekatnya. Tapi, sekali lagi
setiap orang berbeda dalam bereaksi. Kalau masih bertanya kepada Saya
"seandainya" tentu hasilnya akan berbeda. Saya bukan Zidane, dan
kalaupun Saya Zidane pastinya Saya memiliki Zidane versi Saya yang
mungkin tetap berusaha bermain hingga usai kemudian akan curhat dan
marah-marah di MP
Berikut wawancaranya :
Here is a translation of what he told the TV channel Canal Plus about the Materazzi incident.
Interviewer: You know the Italian players well
because you played in Italy for five years. Did you have any problem
with any of them beforehand?
Zinedine Zidane: Not at all. You always have
friction with certain players...that is the game, it has always been
like that. But I never had any clashes with anyone.
Interviewer: Nor Materazzi?
Zinedine Zidane: No, never. There was nothing beforehand and nothing in the match until he started pulling my jersey.
He grabbed my shirt and I told him to stop. I told him if he wanted I'd swap it with him at the end of the match.
That is when he said some very hard words, which were
harder than gestures. He repeated them several times. It all happened
very quickly and he spoke about things which hurt me deep down.
Interviewer: Everyone wants to know exactly what he said...
Zinedine Zidane: They were very serious things, very personal things.
Interviewer: About your mother and your sister?
Zinedine Zidane: Yes. They were very hard words. You hear them once and you try to move away.
But then you hear them twice, and then a third time... I
am a man and some words are harder to hear than actions. I would rather
have taken a blow to the face than hear that.
Interviewer: He said these things about your mother and sister two or three times?
Zinedine Zidane: Yes. I reacted and of course it is not a gesture you should do. I must say that strongly.
It was seen by two or three billion people watching on television and millions and millions of children.
It was an inexcusable gesture and to them, and the
people in education whose job it is to show children what they should
and shouldn't do, I want to apologise.
Interviewer: You apologise to them but do you really regret having done it?
Zinedine Zidane: I can't regret it because if I
do it would be like admitting that he was right to say all that. And
above all, it was not right.
We always talk about the reaction, and inevitably it must be punished. But if there is no provocation, there is no reaction.
First of all you have to say there is provocation, and
the guilty one is the one who does the provoking. The response is to
always punish the reaction, but if I react, something has happened.
Do you imagine that in a World Cup final like that, with
just 10 minutes to go to the end of my career, I am going to do
something like that because it gives me pleasure?
Interviewer: No of course not. But at the moment you exploded...
Zinedine Zidane: There was provocation, and it
was very serious, that is all. My action was inexcusable but you have
to punish the real culprit, and the real culprit is the one who
provoked it. Voila.
sumber berita dan gambar :
http://news.bbc.co.uk
  
Sorry
... ini hanya pendapat teman Saya dari Italy yang kebetulan sedang kuliah disana.
ciao
tutti.........
selamat ya
tuk semua yang mendukung Italia...telat banget nich ucapannya, abisss ga sempat
melulu....kebanyaka pesta.
oh iya
sekedar informasi kalau malam final dan hari penyambutan pemain Italia yang
menang dalam PD....keren banget deh....segala hal dilakukan semua orang italia,
jadi "gila"...
soal
kemenangan Italia kayaknya semua orang setuju kalau Tim itu layak Menang karena
tetap konsisten dalam tekanan internasional atas skandal interent sepakbola
mereka (atau karena ada masalah maka mereka jadi bersatu dan main mati2an,
boleh jadi.....?)
soal
Zidane.....kayaknya dia "silap", biasalah di tengah frustasi apapun
bisa terjadi.......sangat kelihatan sesudah kejadian Zidane (sebelum wasit
memberinya kartu merah) dia sudah menyesal sekali dan mungkn bingung dengan apa
yang baru dia lakukan... soal provokasi dari Materazzi saya liat tidak bisa di
gunakan untuk membenarkan Tindakan Zidane! (saat itu)....
Memang orang
italia sejak anak-anak sampai tua, dari orang biasa
atau pejabat bahkan presiden atau siapapun tidak pernah lepas dari "cakap
kotor" di depan publik atau di manapun....seperti anak pelacur
(bastardi, figlio di putana...), teroris, dst....(tar aku ikut-ikutan...)
adalah kata-kata biasa. Zidane udah pernah main di
italia, dia udah ngerti dengan kata-kata itu....tetapi kenapa seorang Zidane
melakukannya?
yang saya
lihat itulah aslinya Zidane....dan itulah aslinya Materazzi...lalu kenapa kita ribut????(kenapa kita yang kebakaran
jenggot....) seolah-olah kita lebih dari seorang
Zidane atau seorang materazzi....pernyataan saya hanya mengambarkan
bahwa kita boleh memberi pandangan dengan bebas tapi kita bukan orang yang
lebih tahu dan memberi penghakiman sesuai dengan maunnya kita.....kalau Zidane
begitu, emang kenapa? gak terima? wah.....lucu kan artinya kita sudah masuk
dalam logika publik dan "soor" (kesukaan) kita....apakah Italia ga
pantas dan mengurangi nilai kemenangannya karena Materazzi melakukan itu???
wah....apa hubungannya....biarlah sejarah mencatat.....italia menang dan ada
jalan ceritanya...soal kita suka atau tidak dengan jalan cerita itu ya terserah
kita......Zidane akan tetap hebat walau melakukan itu.....kalau dia tidak
melakukan itu, itu bukan Zidane....biarlah orang menjadi dirinya.....
(apakah pemain prancis tidak ada yang memprovokatori pemain italia?)
mungkin
skandal bola italia yang sebenarnya aku lebih tertarik dengan mengatakan
"sistem sepakbola italia" sedang di cemooh oleh semua orang menjadi
pemicu bagi pemain italia untuk menunjukkan bahwa mereka eksis dan tidak
seburuk yang orang pikirkan.........yang menyalahi aturan itu adalah
sistem..............bukan pemain. karena terbukti pemain tidak terpengaruh
artinya Italia Juara, dan bisa kita lihat kalau pemainnya main di LIGA ITALIA
(bukan luar negeri mereka) di tambah berapa banyak pemain yang disumbangkan
Klub-klub italia di PD.....dengan ini juga mengacu bahwa klub-klub di italia
juga masih eksis...
Auguri a voi
tutti.........
TOMY
Gatel
juga tangan gue untuk mengomentari beberapa pernyataan-pernyataan tentang
kemenangan Italy. Baik yang berupa omongan
ataupun di blogs. Dan, gue juga bingung mau mulai darimana.
Zidane, memang dia adalah pemain terbaik dunia. Dia adalah panutan bagi para
pecinta sepakbola dan semua insan sepakbola diseluruh dunia. Dia adalah icon
persepakbolaan Prancis. Dialah yang membawa Prancis ke tahta tertinggi dunia
pada tahun 1998 dan juga Eropa di tahun 2000.
Jujur. FYI, pada saat gue nonton bareng sama anak-anak di Pusat Kebudayaan Italy pas final kemaren temen
gue,Rini, nebak kalo Materazzi akan nyetak gol. Dan gue nebak Zidane akan kartu
merah *konyol memang* but, feeling gue emang mengatakan seperti itu. Pada saat
Materazzi gol-in semua temen-temen gue memberi selamat ke Rini atas tebakannya
itu. Awalnya dia nggak tahu yang namanya Materazzi. Dia cuma bilang yang
jangkung, banyak tatto.
Mungkin benar kita semua nggak akan tahu kalau tidak ada tayangan ulang itu.
Dan, memang dalam permainan tingkat tinggi seperti itu semua bisa saja terjadi.
Dan, Zidane melakukan satu kesalahan. Dia menanduk dada Materazzi, dan
perbuatan seperti itu sangat tidak sportif. DAN TIDAK DAPAT
DIBENARKAN !!!
Gue menghormati Zidane, tapi bukan sekali ini Zidane seperti itu. Dia juga
punya rapor buruk dengan kartu merah. Sebagai catatan ZIDANE juga pernah
melakukan tindakan serupa pada tahun 2001, saat membela Juventus. Dan,
Zidanepun harus dihukum 5 pertandingan. Lalu pada Piala Dunia 1998 saat dia
tidak sengaja menginjak dada pemain Arab Saudi dan dihukum 2 pertandingan.
Mau menyalahkan Materazzi atas tindakannya. Entah ada yang bilang karena dia
megang-megang 'tete' Zidane seperti yang gue baca disini . Atau yang gue baca di
koran pagi ini, Materazzi mengatai Zidane teroris. GO FOR IT.... Salahkan Materazzi. TAPI, JANGAN
PERNAH MENYALAHKAN ITALY ! Please, sepakbola bukan
permainan individu. Italy tak hanya Materazzi dan Prancis tak hanya Zidane
(kalo yang ini gue ragu, soalnya pelatih Prancispun sampai mengatakan
setidaknya kalau ada Zidane saat penalti dia yang ngambil) trus kalaupun dia
gol-in sementara penendang lainnya ada yang gagal. Sama aja kan? So, terus aja mencari
pembenaran !
Italy sudah berjuang meraih gelar
itu dengan susah payah. Mereka tertatih-tatih karena Zambrotta cedera
diawal-awal partai Piala Dunia, Nesta cedera saat melawan Rep. Ceska dan tidak
bisa bermain hingga final, pelanggaran Materazzi yang tidak sepantasnya
mendapat kartu merah saat melawan Australia dan terakhir mesti bersusah payah
hingga extra-time babak ke-2 saat melawan tuan rumah Jerman dan tekanan
suporter tuan rumah.
Jadi, gue disini cuma memberikan pandangan gue terhadap itu. Gue selalu
menghormati Zidane dengan permainan indahnya, prestasinya baik ditingkat klub
maupun tim nasional. Sebagai pemain bertingkat tinggi. But, sekali lagi
sepakbola itu permainan tim. Italy memberi contoh yang baik buat
Prancis. Dimana mereka mesti kehilangan Nesta yang merupakan palang pintu
tangguh Italy.
Perjuangan Italypun patut mendapat acungan jempol. Buffon selalu berusaha
dengan segala upaya untuk mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Cannavaro
selalu ada disetiap sudut lapangan untuk menjaga daerah pertahanan Italy. Pirlo tak kenal lelah
menjelajah seluruh sisi lapangan untuk mencari celah dipertahanan lawan. Dan,
semua yang berjuang mati-matian untuk gelar yang terakhir mereka raih tahun
1982.
Sungguh kekanak-kanakan mengklaim Italy tak pantas juara hanya
gara-gara Zidane kartu merah.
gambar :
http://fifaworldcup.yahoo.com
  

Ya! Piala itu akhirnya kembali direngkuh oleh Italy dan menambah lambang bintang di kostum Italy menjadi 4(    )
bintang. *hanya selisih satu dengan Brazil*. 24 tahun adalah waktu yang
cukup lama untuk tim sebesar Italy. Dan itu terjadi tahun 1982 disaat
gue masih berusia sekian bulan 
Perjuangan
Italy malam tadi cukup berat, setelah dikejutkan oleh penalty yang
diberikan dimenit ke-6. Setelah Malouda terjatuh dikotak penalty (dan
ditayangan ulang jelas-jelas Malouda terjatuh karena kakinya
keserimpet!) *damn* Zizou-pun dengan sukses mengeksekusi dengan baik,
meskipun sempat membentur tiang gawang. 1-0 buat Prancis.
Italypun
segera bereaksi, serangan bertubi-tubi dilancarkan ke jantung
pertahanan Prancis. Dan hasilnya sebuah set piece manis membuahkan gol
untuk Italy. Skor pun berubah menjadi 1-1 hasil dari sundulan
Materazzi. Praktis setelah itu tidak ada gol lagi tercipta, meskipun
beberapa kali mereka saling memiliki peluang untuk memperbesar skor.
Henry,
Malouda dan Ribery berkali-kali membuat Buffon jatuh bangun untuk
mempertahankan gawangnya. Hingga suatu ketika terjadi insiden diluar
penglihatan kita (bila tak ada siaran ulang) disitu terlihat Zidane
menanduk dada Materazzi. Entah apa yang diucapkan Materazzi saat itu
hingga membuat Zidane bereaksi kekanak-kanakan dan terpancing emosinya.
Sumpah,
suasana dipusat kebudayaan Italy tempat gue nonton tadi pagipun menjadi
riuh menyoraki perbuatan Zidane. Apalagi ada beberapa *penyusup* yang
dengan pe-de mendukung Prancis ditengah lautan Italy dan 'secara' ini
di Pusat Kebudayaan Italy *hello!!!*
Acara disitu
lumayan rame, dan gw pun berhasil membawa pulang suvenir berupa topi
dan kaos karena berhasil menjawab sebuah pertanyaan. Not bad, nonton
gratisan, sama-sama pecinta Italy dan juga dapet hadiah. Dan juga
disitu ada Tyo Nugros dan pacarnya ikut meramaikan acara nonton bareng.
Setelah
kemenangan Italy melalui drama adu penalty tersebut dan menonton
seremonial penyerahan trophy. gue dan temen-temen gue konvoi keliling
"sebagian" Jakarta. Mulai Menteng - Kuningan - Pancoran - Tebet -
Kuningan - Menteng. Dan kamipun makan nasi goreng untuk mengisi perut.
Mobil kami hiasi dengan bendera Italy yang kebetulan dibawa oleh Rudy
dan Gobbie. Dan sempat beberapa kali membunyikan klakson.
Setelah
mengantar satu per satu teman pulang. Guepun segera mengambil motor,
pulang, mandi dan *tada!!!* I'm here at the office again! Meski datang
sedikit telat, tetap mendapat ucapan selamat dari beberapa rekan
kantor. Karena mereka tahu dari awal gue emang mendukung Italy. Dan
beberapa kali mereka meragukan kemampuan Italy gue, dan sekarang
terlihat siapa yang tertawa belakangan!
*Hm,,, dah
gitu ditagih OB gue buat traktir. Ya udah tadi gue kasih duit aja buat
beli goreng-gorengan untuk orang-orang sekantor hihihihihi.
ngantuk niyyyyyyy ....

Italy akhirnya berhak melaju ke babak final Piala Dunia setelah
mengandaskan perlawanan Jerman dengan skor 2-0. Kedua gol Italy
dicetak di babak perpanjangan waktu oleh Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero.
Strategi Marcelo Lippi yang membiarkan Jerman terus-menerus menggempur Italy
selama 90 menit benar-benar beresiko. Akan tetapi, tak ada yang tahu makna
dibalik itu semua. Lippi mengeluarkan senjata mautnya di babak perpanjangan
waktu dan Jermanpun hanya bisa meratapi hasil akhir tersebut. Ditariknya Klose
yang malam itu bermain jauh dari performa terbaiknya, Frings yang mendapatkan
kartu merah karena insiden pemukulan saat melawan Argentina
dan Schweinsteiger yang entah kenapa baru dimasukkan dibabak kedua juga menjadi
sebab kekalahan Jerman.
Sebetulnya peluang Jerman tidaklah sedikit,
berkali-kali Jerman membahayakan gawang Italy
melalui Podolski, Schneider atau Ballack. Akan tetapi, semua selalu mentah
ditangan Buffon, diantisipasi duet center back Materazzi – Cannavaro atau
melebar dari gawang Italy.
Italy pun kini ditantang Perancis yang berhasil mengandaskan perlawanan Portugal
di semifinal lainnya. Pertemuan keduanya akan terjadi tanggal 10 Juli nanti
pukul 01:30 waktu Indonesia. Mereka akan bertanding di Berlin. Italy
kemungkinan akan turun full-team. Dan pertandingan diramalkan akan seru, karena
ini adalah pertama kalinya Italy
melaju ke babak final setelah terakhir kali mereka merasakan final saat di USA ’94
(saat itu mereka kalah adu penalty dari Brasil) setelah final itu Italy
selalu kandas meskipun selalu lolos dari putaran Grup.
Satu hal yang cukup menarik adalah fakta
bahwa Brasil meraih juara Dunia ketiga mereka di tahun 1970 dan 24 tahun
kemudian mereka baru mendapat juara keempat mereka. DAN, Italy
terakhir juara atau mendapat juara ketiga mereka tahun 1982. AKANKAH, setelah
24 tahun menanti Italy akan merasakan kenikmatan serupa seperti yang didapatkan Brasil?
Kita nantikan jawabannya di Berlin!
FORZA ITALY
!!!
photo : http://www.figc.it/english/gallery/12_photo_germania_2006.htm
   
Hm ... banyak banget yang menuding Italy gue beruntung. Bagian yang
mananya yg beruntung? Bermain dengan 10 orang karena 1x pelanggaran
Materazzi yang berbuah kartu merah? atau sekitar 6-7 peluang didepan
mata Italy yang berulangkali terselamatkan oleh Schwarzer atau melebar.
Membahas penalti? Oke ... Grosso mencoba menerobos kotak penalti. Lalu
Lucas Neill menjatuhkan diri untuk menghalangi laju Grosso. Meskipun
tidak ada kontak fisik yang keras, jelas itu merupakan pelanggaran.
Berikut kutipan ulasan dari channel4.com :
Of
course, the main gripe from the men from Down Under comes in relation
to the debatable penalty decision. It admittedly wasn’t clear cut,
contentious, harsh, but these things happen in football as they do in
cricket when it comes to LBW decisions. And you definitely don’t need
Hawkeye technology to see Lucas Neill providing Fabio Grosso with a
barrier in which to run into. A snick-o-meter may have perhaps been
useful to assess whether any contact was actually made, but there was
no doubt that Neill was guilty of a dropped catch just before
tea.
Fabio Cannavaro said :
"“If
anyone was lucky, it was Australia, as they were able to play against
10 men for 40 minutes. Nonetheless, I was sure we would get through.
The Australians play a very predictable style of football and, when
Andrea Barzagli came on, I told him to enjoy himself. This is the kind
of game where a defender has fun.”
Materazzi said :
“I
have to say that my situation is a rare one. I’ve committed one foul in
the World Cup and picked up one red card.”
Lippi Said :
"When in the 92nd minute, our defender headed into the area and was
taken down for a nailed-on penalty, I think it was something
fantastic," Lippi said. "And Totti converted it with real skill.
"There were two fouls on him [Grosso]. He didn't go down under the
first and he carried on dribbling and then sustained another clear foul.
"Why? Does anyone have any doubts about the penalty?"
Rating pemain :
| It
proved to be a G’day for Italy in the end. But which Azzurri proved to
be Wizards of Oz and who Drongos in the 1-0 win over Australia? |
 |
Gigi Buffon: 7.5
FIFA’s
Man of the Match, Buffon was always alert and ready on the few
occasions he was called upon. Clearly the best goalkeeper of Germany
2006 so far. Commanding. |
 |
Gianluca Zambrotta: 6.5
Another
game of substance, but the lack of support he receives on the flank is
hampering his impact. Let’s hope the booking he picked up for dissent
doesn’t prove costly. |
 |
Fabio Cannavaro: 8
Unbeatable
yet again despite the considerable size difference between himself and
Mark Viduka. He anticipated every ball, jumped higher than he should, a
man mountain for Italy. |
 |
Marco Materazzi: 6
It
was all going so well until his wrongful dismissal. Tactically aware,
solid with his tackles, his passing was immense. Unfortunately his only
mistake, and reputation, cost him dearly. |
 |
Fabio Grosso: 6.5
Left
his best contribution till the end when he, perhaps cleverly, won his
side the debatable penalty. Up until that point, Grosso was again
struggling to make his presence felt. |
 |
Andrea Pirlo: 6
A
shady performance from the playmaker whose passing was erratic at
times. He needs to refind his touch from Italy’s first two games. |
 |
Gennaro Gattuso: 7
Playing
with 10 men is a lot simpler with Gattuso in your side. Another gutsy
performance from the Milan man even if he should have done better with
that over-hit cross to Del Piero. |
 |
Simone Perrotta: 6.5
Italy’s
marathon man in midfield, he clocked up some miles and tackles for the
Azzurri. Also provided danger offensively at times with some
intelligent runs. |
 |
Alessandro Del Piero: 5.5
Started
brightly on the left, but his game basically ended with Italy’s
reduction to 10 men. Was rightly replaced in the second half, who knows
if he’ll get another chance? |
 |
Luca Toni: 5.5
Perhaps
should have saved up some of his Serie A goals for the summer. Had
three decent chances, but failed with all of them. Was replaced after
Materazzi’s red. |
 |
Alberto Gilardino: 6
Rather
surprisingly taken off at half-time after another courageous effort.
Held up the ball well with his back towards goal and almost rippled the
net with a decent opportunity. |
 |
Vincenzo Iaquinta: 5
A
wasted substitution [and call up?]. Just what Marcello Lippi sees in
him remains to be seen. He lacks control, composure and did little to
help his team when reduced to 10 men. |
 |
Andrea Barzagli: 6.5
Still
relatively inexperienced, Barzagli was a credit for the way he handled
himself in difficult circumstances. Did everything that was required of
him with confidence and calmness. |
 |
Francesco Totti: 6.5
Made
a limited impact after being thrown on by Lippi, but impressed for his
mental strength at the death by smashing home the penalty. Thankfully
opted to not chip his spot-kick… |
 |
Marcello Lippi: 6
Arguably
made the right decision in starting Totti on the bench, but his plans
went out of the window with the dismissal. The introduction of Iaquinta
was suspect, yet he deserves praise for gambling on Totti as a sub when
it would have been easy to pack the midfield and play for penalties. |
|  | Ini adalah beberapa foto pemain-pemain Italy dan juga ada foto fansnya. |
Perdelapan final
Spanyol v
Prancis : Sayang sekali duel ini terjadi lebih awal, akan tetapi
Spanyol kali ini lebih diunggulkan. Rekor 3 kemenangan tanpa
terkalahkan di penyisihan grup dan pemain-pemain muda yang bertalenta
tinggi seperti Torres, D.Villa, Joaquin, Cesc Fabregas, dkk. Sebaliknya
Prancis malah bisa disebut lolos dengan beruntung, setelah meraih hasil
seri 2 kali melawan Swiss dan Kor-Sel akhirnya mereka bisa lolos
setelah mengalahkan Togo dengan bersusah payah.
Pemenang : Spanyol
Brasil v Ghana
: Satu-satunya wakil Afrika ini langsung bertemu dengan juara tahun
1994, runner-up 1998 dan juara 2002. Sudah jelas Brasil lebih
diunggulkan.
Pemenang : Brasil
Perempat final
Jerman v
Argentina >>> Sebagai tuan rumah Jerman diunggulkan, duet lini
depan mereka Klose - Podolski benar-benar tajam dengan torehan 7 gol
(Klose-4, Podolski-3), dan semakin membaiknya permainan Michael Ballack
Inggris v
Portugal >>> Kehilangan beberapa pemain kuncinya, Portugal
pasti akan kewalahan melawan Inggris yang semakin hari semakin baik
penampilannya.
Italy v Ukraina
>>> Tim debutan ini sukses melaju hingga perempat final, itu
adalah awal yang baik. Tapi, sepertinya mereka tidak akan dapat berbuat
banyak dalam melawan Italy.
Brasil v Spanyol >>> Seru ... akan tetapi Brasil jelas lebih diunggulkan
Semifinal
Inggris v
Brasil >>> Inggris berniat membalas dendam atas kejadian
4 tahun silam. Akan tetapi Brasil merupakan tim juara.
Italy v
Jerman >>> Berat sebenernya ... akan tetapi Italy
diharapkan dapat bermain dengan sepak bola efektif. Harus bersabar
dalam menjaga daerah pertahanan mereka dari serangan-serangan Jerman
Final
Italy v Brasil
>>> Ulangan partai tahun 1994 ini pasti akan menjadi menarik.
Italy, yang terakhir kali mengangkat piala dunia tahun 1982 itu
tentunya ingin membuktikan kalau mereka adalah tim yang sempurna.
*Semua ini hanya ramalan gue aja , koq =)
Tegang ...
Deg-deg'an ...
Senewen ...
Semua
perasaan itu campur aduk pada saat Italy melawan Australia tadi malam.
Australia yang baru di piala dunia kali ini tampil untuk kedua kalinya
diluar dugaan berhasil mengimbangi permainan Italy, bahkan merekapun
tak henti-hentinya melakukan serangan ke jantung pertahanan Italy yang
pada malam itu di jaga duet Materazzi - Cannavaro karena Alessandro
Nesta masih didera cedera.
Berkali-kali
Luca Toni dan Gilardino membahayakan gawang Australia yang dikawal oleh
Mark Schwarzer, akan tetapi tak ada yang membuahkan hasil. Malahan
Italy harus menelan pil pahit dengan dikartu merahnya Marco Materazzi
pada menit ke-51. Pencetak gol pembuka pada partai melawan Rep. Ceska
itu melakukan tackle yang terlambat kepada Mark Bresciano dan harus
meninggalkan lapangan.
Bisa
ditebak, permainan berat sebelah. Australia berkali-kali menggempur
pertahanan Italy, sedangkan Italy hanya mengandalkan serangan balik dan
lebih berkonsentrasi dengan pertahanan mereka. Masuknya Totti
menggantikan Del Piero ternyata terbukti efektif. Berkali-kali umpan
Totti membahayakan pertahanan Australia. Sampai dipenghujung
pertandingan, dikala sudah menyentuh angka 93++ atau tinggal beberapa
detik menjelang perpanjangan waktu 2x15 menit sebuah pelanggaran
terjadi. Fabio Grosso yang coba menerobos kotak penalty Australia
tersangkut kaki Lucas Neill dan wasit Cantalejo dari Spanyolpun
menunjuk titik putih.
Peluang
gol pun tidak disia-siakan oleh Francesco Totti. Dengan dingin Ia
mengeksekusi peluang penalti itu menjadi gol. Dan pertandingan pun
berkesudahan dengan 1-0 untuk kemenangan Italy. Dimana kedua tim sudah
bermain maksimal, yang menentukan adalah mental para pemain. Dan itulah
yang dimiliki Italy meskipun harus bermain dengan 10 orang semenjak
menit ke-51.
Tidak
adil? Hal itu gue denger dari penuturan para fans Australia tadi pagi.
Kekalahan tetaplah kekalahan, bagaimanapun bentuknya. Hm ... setelah
kemaren dikecewakan dengan kalahnya Belanda dari Portugal, pagi ini gue
bisa sedikit tersenyum dengan lolosnya Italy dan akan ditantang Ukraina
yang berhasil menenggelamkan Swiss melalui drama adu penalti.
   

Piala Dunia telah menyentuh 52 partai, artinya tinggal tersisa 12 partai lagi
Dari 52 partai yang telah dimainkan telah tercipta 123 gol
atau 2,37 gol / partai
Kartu merah : 19
Kartu Kuning : 291
TOP SKOR :
4 gol - Klose (Jerman)
3 gol - Podolski (Jerman), Torres (Spanyol), Crespo, Maxi Rodriguez (Argentina)
KARTU KUNING :
3 yellow card : Andre (ANgola),
Bouhlarouz, Van Bronchorst(Belanda), Costinha,Deco (Portugal), Emerton
(Australia), Lucic(Swedia), Nadj (Serbia-Montenegro)
KARTU MERAH :
Red Card : Abalo(Togo), Andre(Angola),
Bouhlarouz, Van Bronchorst (Belanda), De Rossi(Italy),
Deco,Costinha(Portugal), Domoraud(Pantai
Gading),Emerton(Australia),Jaziri(Tunisia), John
(trinidad&tobago),Kezman,
Nadj(Serbia-Montenegro),Lucic(Swedia),Mastroeni,Pope(USA),
Perez(Mexico),Polak,Ujfalusi(Rep.Ceska),Simic,Simunic(Kroasia),
Sobolewski(Polandia),Vaschuk(Ukraina)

BT
! Ya, itu yang gue alami saat ini gara-gara unggulan kedua gue after
Italy mesti pulang kampung lebih awal setelah dikalahkan Portugal
dengan skor tipis 1-0. Kedua tim bermain imbang, atau kalau boleh
dibilang Belanda gue bermain lebih baik dibanding Portugal yang cuma
mengandalkan serangan balik. TAPI, satu kesalahan yang Anda perbuat
dalam sebuah pertandingan hidup-mati atau babak knock-out seperti ini
maka hasilnya akan fatal. Ini terbukti di partai tadi malam.
Belanda yang
sepanjang pertandingan mengurung pertahanan Portugal sama sekali tidak
dapat mencetak satu golpun. Keanehan terjadi karena Kuijt dipercaya
untuk menjadi trio penyerang bersama Robben dan Van Persie. Sedangkan
Nistelrooij hanya menjadi penonton dibangku cadangan. Malapetaka hadir
saat pertandingan memasuki menit ke -24 dimana Maniche yang mendapatkan
ruang tembak berhasil memperdayai kiper Belanda, Edwin Van Der Sar,
dengan tendangannya.
Setelah itu
yang ada dipikiran anak-anak Portugal hanyalah bertahan dan bertahan.
Sebetulnya keuntungan sedikit memberi secercah sinar kemenangan untuk
Belanda karena Costinha mendapat kartu kuning keduanya a.k.a kartu
merah di menit ke-45. Akan tetapi, keunggulan jumlah pemain tidak dapat
dimaksimalkan oleh para pemain Belanda. Peluang emas yang diperoleh
Phillip Cocu hanya bisa menerpa mistar gawang setelah sebelumnya lolos
dari jebakan offside.
Belanda malah
mesti merelakan Khalid Bouhlarouz mendapat kartu kuning ke-2nya juga
dan kartu merah kedua dalam pertandingan ini dimenit ke-63. Belanda
tidak menghentikan serangan, berkali-kali mereka mencoba membahayakan
gawang Portugal. Tapi, permainan anak-anak Portugal mempertahankan
keunggulan malah membuat mereka semakin GANAS dan kartu merah kembali
diberikan oleh Valentin Ivanov (Russia) yang memimpin partai panas
tersebut kepada Deco dimenit ke-78. Unggul jumlah pemain 10 lawan 9,
Marco Van Basten (pelatih Belanda) memasukkan Jan Venegor of Hesselink
untuk menambah serangan, lagi-lagi peluang Kuijt yang sudah one-on-one
dengan penjaga gawang masih belum membuahkan hasil. Akhirnya
dipenghujung pertandingan Belanda harus menerima kekalahan atas NEGATIVE FOOTBALL
ala PORTUGAL yang sukses diperagakan anak-anak LUIZ FELIPE SCOLARI.
Harusnya Belanda menerapkan prinsip gue," Buat apa main indah kalau
ujung-ujungnya kalah." Bye-bye Holland, perjuangan kalian sudah cukup
maksimal. Tak ada yang patut disesali. VIVA ORANJE !
| FT | Portugal | 1 - 0 | Holland | | | half-time | (1 - 0) |
| | |
|
|
|
| | referee : | spectators : |
|
| Valentin Ivanov (Russia) | 41,000 |
| | match details : |
| | 2' |
|
| M.v. Bommel  |
| | 7' |
|
| K. Boulahrouz  |
| | 20' | Maniche  |
|
|
| | 23' | Maniche  | [1 - 0] |
|
| | 31' | Costinha  |
|
|
| | 45' | Costinha  |
|
|
| | 50' | Petit  |
|
|
| | 59' |
|
| G.v. Bronckhorst  |
| | 60' | L. Figo  |
|
|
| | 63' |
|
| K. Boulahrouz  |
| | 73' | Deco  |
| W. Sneijder  |
| | 74' |
|
| R.v.d. Vaart  |
| | 76' | N. Valente  |
|
|
| | 76' | Ricardo  |
|
|
| | 78' | Deco  |
|
|
| | 90' |
|
| G.v. Bronckhorst  |
| | statistics : | | | shots on target : | 5 - 7 |
| | | shots off target : | 4 - 12 |
| | | possession (%) : | 39 - 61 |
| | | corner kicks : | 3 - 5 |
| | | offsides : | 4 - 2 |
| | | fouls : | 10 - 15 |
| | | yellow cards : | 9 - 7 |
| | | red cards : | 2 - 2 |
|
|
|
| | line-ups : |
| | | [ 4-3-3 ] | | [ 4-3-3 ] |
| | | Ricardo | | Edwin Van der Sar | | | Miguel Monteiro | | Khalid Boulahrouz | | | Ricardo Carvalho | | Andre Ooijer | | | Fernando Meira | 56' | Joris Mathijsen | | | Nuno Valente | | Giovanni v. Bronckhorst | | | Costinha | 67' | Mark van Bommel | | | Deco | | Wesley Sneijder | | | Maniche | 85' | Philippe Cocu | | 84' | Luis Figo | | Robin van Persie | | 46' | Pedro Pauleta | | Dirk Kuijt | | 34' | Cristiano Ronaldo | | Arjen Robben |
| | substitutions : |
| | 34' | Sabrosa Simao | 56' | Rafael van der Vaart | | 46' | Petit | 67' | Johnny Heitinga | | 84' | Tiago | 85' | Jan Vennegoor of Hesselink |
| | coach : |
| | | Luiz Felipe Scolari | | Marco van Basten |
   
|  | Wah, paparazzi dapet aja ya Beckham lagi ... *tittttttttt* sensored ,,, ada-ada aja ... ga bisa didalem kamar ya garuk-garuknya apa sengaja biar masuk koran ... heheheheeheehe
Yah, BECKHAM juga manusia ... bisa gatel ... (^_^)v |
Berikut ini Gue tampilkan tim - tim yang sudah lolos ke babak 16 besar :
Grup A
Jerman
: Sebagai tuan rumah dan unggulan, Jerman membuktikan kemampuan mereka
dengan menggulung semua lawan-lawannya yang tergolong mudah di grup
ini. Miroslav Klose dkk berhasil meraih poin sempurna 9 hasil 3 kali
menang dan belum pernah kalah. Dan Jermanpun menempatkan Klose sebagai
top skorer sementara dengan torehan 4 gol.
Ekuador
: Hadir sebagai tim underdog, dan kurang diunggulkan. Ekuador malah
berhasil menemani Jerman untuk melaju kebabak 16 besar. Di dua partai
awal mereka berhasil menggebuk Polandia 2-0 dan Kosta Rika 3-0.
Satu-satunya kekalahan mereka diderita dari pimpinan Grup A, Jerman,
dengan skor telak 3-0. Tapi, itu tidak berpengaruh karena mereka sudah
lolos.
Grup B
Inggris
: Inggris sesuai dugaan dapat lolos sebagai juara Grup, meski awalnya
sempat diragukan karena hanya menang tipis 1-0 melawan Paraguay dan 2-0
melawan Trinidad&Tobago. Dari kedua partai itu Inggris mesti
bersusah payah untuk meraih kemenangan. Dan, dipartai terakhir melawan
Swedia Inggris hanya mendapat hasil imbang 2-2. Setelah sempat unggul
1-0 dibabak pertama dan 2-1 dibabak kedua.
Swedia :
Swedia akhirnya dapat lolos ke babak ke-2. Meskipun hanya meraih poin 5
hasil 1 kali menang (lawan Paraguay) dan 2 kali seri
(Trinidad&Tobago , Inggris). Larsson dkk cukup kesulitan di Piala
Dunia kali ini.
Grup C
Argentina
: Tim Tango berhasil memimpin grup C di atas Belanda. Setelah dengan
susah payah menundukkan Pantai Gading, diluar dugaan mereka bisa
membantai Serbia-Montenegro dengan skor telak 6-0 ! Dan dipartai
terakhir yang kurang menentukan mereka hanya bermain seri 0:0 melawan
Belanda. Meskipun begitu banyak peluang yang mereka peroleh.
Belanda :
Tim besutan Marco Van Basten ini berhasil mendampingi Argentina untuk
tampil di babak 16 besar. Dipartai pembuka mereka harus berterima kasih
kepada Arjen Robben sebagai pencetak gol tunggal dan pada partai
melawan Pantai Gading merekapun hanya menang tipis 2-1 melaui
gol-gol Van Nistelrooij dan Van Persie.
Grup D
Portugal
: Portugal diluar dugaan berhasil menduduki posisi puncak mengangkangi
Mexico yang notabene langganan piala dunia. Anak asuh Luis Felipe
Scolari ini berhasil meraih hasil sempurna dengan torehan 9 poin hasil
menang 1-0 melawan Angola, 2-0 melawan Iran dan terakhir 2-1 melawan
Mexico |
|